MANTRAM HARI RAYA PAGERWESI
1. Pengertian Hari Raya Pagerwesi
Kata "pagerwesi" artinya pagar dari besi. Ini me-lambangkan suatu perlindungan yang kuat. Segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang bernilai tinggi agar jangan mendapat gangguan atau dirusak. Hari Raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak. Nama Tuhan yang dipuja pada hari raya ini adalah Sanghyang Pramesti Guru.
Sanghyang Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melebur segala hal yang buruk. Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Pramesti Guru, beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia. Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun, sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur.
2. Mantram Hari Raya Pagerwesi
Mantra adalah kata suci atau bertuah yang dapat memberi pengaruh atau getaran yang bersifat magis, apabila disebutkan maupun dijapakan, baik secara ingatan (mansika), berbisik (upamsu), maupun dengan ucapan (wacika).
Mantra merupakan unsur terpenting dalam agama Hindu, karena setiap ada upacara keagamaan maupun sembahyang pasti akan terdengar mantra. Oleh karena mantra tersebut sangat diyakini mengandung kekuatan suci dan gaib. Kata mantra berasal dari kata “man” dan “yantra”, yang artinya alat untuk melindungi pikiran. Pengucapan mantra bertujuan untuk melindungi pikiran dari berbagai macam godaan, sehingga dapat memikirkan hal-hal yang bermanfaat dan senantiasa berjalan pada dharma dalam rangka mendapatkan pencerahan spiritual. (Mpu Daksa Yaska,2011: 237-238). Seperti halnya, mantram yang diucapkan pada hari raya Pagerwesi.
Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta. Dalam lontar Sundarigama disebutkan:
"Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh, wenang Sang Purohita ngarcana paduka Bhatara Prameswara, Widhiwidanania:
Daksina, suci 1, pras penyeneng, sesayut Pancalingga, penek ajuman, saha raka, wangi-wangi saruntutannia, haturakna ring sanggar Kamulan. Kunang ring sira wwang :
Sesayut pageh hurip, 1 pryascita tengah wengi, pasang yoga Samadhi ta. Mwah hana labha ring Panca Mahabutha :
Segehan warna, anut huriping Pancadesa, ring natar Sanggah, mwah segehan Agung 1”
(Sundarigama)
Terjemahan:
Pada hari Budha Kliwon (Sinta), disebut Pagerwesi, saat Sanghyang Pramesti Guru (Ciwa) dan diikuti oleh Dewata Nawasanga, yang bertujuan untuk menyelamatkan jiwa segala mahluk hidup yang ditakdirkanNya dialam ini semuanya, karena patutlah para Sulinggih memuja ciptaan Bhatara Prameswara. Upakaranya ialah :
Daksina, suci 1, peras penyeneng, sesayut pancalingga, penek ajuman, serta raka-raka, wangi-wangi, dan perlengkapannya, yang dihaturkan (disuguhkan) di Sanggah Kemulan.
Adapun bebanten bagi orang-orang ialah :
Sesayut pageh hurip 1, serta prayascita, setelah tengah malam, dilakukan yoga semadi (renungan suci).
Dan ada pula suguhan kepada Panca Maha Butha (lima unsur alam), yaitu Segehan berwarna, sesuai dengan neptu kelima arah (arah penjuru mata angin), dan diselenggarakan di natar sanggah, dan disertai dengan segehan agung 1 (sebuah).
Kemudian adapun mantra yang dipergunakan saat Hari Raya Pagerwesi adalah
“Om Giripati maha wiryam, Mahadewapratista, lingam, sarwa Dewa Pranayanam. Sarwa Jagat Pratisnam. Om Giripati dipata ya namah”
Terjemahan :
Ya Tuhan, bergelar Giripati yang Maha Agung, Mahadewa dengan lingga yang mantap, semua Dewa sembah padaMu
Om Giripati, hamba memujaMu.
Dilihat dari Lontar Sundarigama, menyebutkan bahwa hari raya pagerwesi adalah beryoganya Sang Hyang Siwa, kemudian tentang upakara, serta bebanten bagi orang-orang. Kemudian juga dalam mantram yang diucapkan pada hari raya Pagerwesi menyebutkan kata lingga yang merupakan lambang Dewa Siwa. Lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti, keterangan, petunjuk, lambang kemaluan laki-laki terutama lingga Siwa dalam bentuk tiang batu, Patung Dewa, titik tuju pemujaan, titik pusat, pusat, poros, sumbu (Zoetmulder, 2000 601). Sehingga bila dikaitkan mantram ini mengandung sekte Siva Siddhanta, karena Siwa dianggap Dewa tertinggi yang disebut Sanghyang Pramesti Guru yang diikuti oleh Dewata Nawasanga dan beryoga dengan lingga yang mantap.
3. Makna Filosofi
Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama, Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati.
Mengadakan yoga berarti Tuhan menciptakan diri-Nya sebagai guru. Barang siapa menyucikan dirinya akan dapat mencapai kekuatan yoga dari Hyang Pramesti Guru. Kekuatan itulah yang akan dipakai memagari diri. Pagar yang paling kuat untuk melindungi diri kita adalah ilmu yang berasal dari guru sejati pula. Guru yang sejati adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat megisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.
Pada hari raya Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati . Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan "pager besi" untuk melindungi hidup kita di dunia ini. Di samping itu Sang Hyang Pramesti Guru beryoga bersama Dewata Nawa Sanga adalah untuk "ngawerdhiaken sarwa tumitah muang sarwa tumuwuh."
Ngawerdhiaken artinya mengembangkan. Tumitah artinya yang ditakdirkan atau yang terlahirkan. Tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan. Mengembangkan hidup dan tumbuh-tumbuhan perlulah kita berguru agar ada keseimbangan.
Dalam Bhagavadgita disebutkan ada tiga sumber kemakmuran yaitu:
a. Krsi yang artinya pertanian (sarwa tumuwuh).
b. Goraksya, artinya peternakan atau memelihara sapi sebagai induk semua hewan.
c. Wanijyam, artinya perdagangan. Berdagang adalah suatu pengabdian kepada produsen dan konsumen. Keuntungan yang benar, berdasarkan dharma apabila produsen dan konsumen diuntungkan. Kalau ada pihak yang dirugikan, itu berarti ada kecurangan. Keuntungan yang didapat dari kecurangan jelas tidak dikehendaki dharma.
Kehidupan tidak terpagari apabila tidak berkembangnya sarwa tumitah dan sarwa tumuwuh. Moral manusia akan ambruk apabila manusia dilanda kemiskinan baik miskin moral maupun miskin material. Hari raya Pagerwesi adalah hari untuk mengingatkan kita untuk berlindung dan berbakti kepada Tuhan sebagai guru sejati. Berlindung dan berbakti adalah salah satu ciri manusia bermoral tanpa kesombongan.
Mengembangkan pertanian dan peternakan bertujuan untuk memagari manusia dari kemiskinan material. Karena itu tepatlah bila hari raya Pagerwesi dipandang sebagai hari untuk memerangi diri dengan kekuatan meterial. Kalau kedua hal itu (pertanian dan peternakan) kuat, maka adharma tidak dapat masuk menguasai manusia. Yang menarik untuk dipahami adalah Pagerwesi adalah hari raya yang lebih diperuntukkan para pendeta (sang purohita). Hal ini dapat dipahami, karena untuk menjangkau vibrasi yoga Sanghyang Pramesti Guru tidaklah mudah. Hanya orang tertentu yang dapat menjangkau vibrasi Sanghyang Pramesti Guru. Karena itu ditekankan pada pendeta dan beliaulah yang akan melanjutkan pada masyarakat umum. Dalam agama Hindu, purohita adalah adi guru loka yaitu guru utama dari masyarakat. Sang Purohita-lah yang lebih mampu menggerakkan atma dengan tapa brata.
Bila dikaitkan dengan Siwa Siddhanta, Hari Raya Pagerwesi adalah memuja Sang Hyang Pramesti Guru yaitu Dewa Siwa. Sehingga sektenya adalah Siwa Siddhanta. Karena memuja Dewa Siwa pada Hari Raya ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar