Jumat, 03 Januari 2014

Pengkajian Konsep Siwa Siddhanta Dalam Mantram



SIVA SIDDHANTA II
TUGAS UTS
“PENGKAJIAN KONSEP SIWA SIDDHANTA
DALAM MANTRAM”


 
IHD


IHDN Denpasar
Oleh :
Nama  : Luh Widastri
NIM    : 10.1.1.1.1. 3820
Kelas   : PAH A / Semester V


Jurusan Pendidikan Agama Hindu
Fakultas Dharma Acarya
Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
2012

TUGAS PERTAMA
1.            Mantram Puja Tri Sandhya
Adapun keenam bait dari mantram puja Tri Sandhya ini, adalah :
  1. Om, Om
Om Bhur Bhuwah Swah,
Tat Sawitur Warenyam,
Bhargo Dewasya Dhimahi,
Dhiyo Yo Nah Prachodayat,
Artinya:
Ya Hyang Widhi yang menguasai ketiga dunia ini, yang maha suci dan sumber segala kehidupan, sumber segala cahaya, semoga limpahkan pada budi nurani kami penerangan sinar cahayaMu yang maha suci.

  1. Om Narayanad Ewedam Sarwam,
Yad Bhutam Yasca Bhawyam,
Niskalo Nirlano Nirwikalpo,
Nlraksatah Suddho Dewo Eko,          
Narayana Nadwityo Asti Kascit.
Artinya:
Ya Hyang Widhi, darimulah segala yang sudah ada dan yang akan ada di alam ini berasal dan kembali nantinya. Engkau adaIah gaib, tiada berwujud, di atas segala kebingungan,tak termusnahkan. Engkau adalah maha cemerlang, maha suci, maha esa dan tiada duanya.

  1. Om Twam Siwah Twam Mahadewah,
Iswarah Parameswara,
Brahma Wisnusca Rudrasca,
Purusah Parikirtitah,
Artinya:
Engkau disebut Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma dan Wisnu dan juga Rudra. Engkau adalah asal mula dari segala yang ada.

  1. Om Papo’ham Papakarmaham ,
Papatma Papasambhawah,
Trahi Mam Pundarikaksah,
Sabahyabhyantara Sucih.
Artinya:
Oh Hyang Widhi Wasa, hamba ini papa, jiwa hamba papa dan kelahiran hambapun papa, perbuatan hamba papa, Ya Hyang Widhi, selamatkanlah hamba dari segala kenistaan ini, dapatlah disucikan lahir dan batin hamba.

  1. Om Ksama Swamam Mahadewa,
Sarwaprani Hitangkarah,
Mam Mocca Sarwapapebhyah,
Palayaswa Sadasiwa.   
Artinya:
Ampunilah hamba. oh Hyang Widhi, penyelamat segala makhluk. Lepaskanlah , kiranya hamba dari segala kepapaan ini dan tuntunlah hamba, selamatkan dan lindungilah hamba oh Hyang Widhi Wasa.

  1. Om Ksantawya Kayika Dosah.
Ksantawyo Wacika Mama,
Ksantawya Manasa Dosah,
Tat Pramadat Ksamaswa Mam.
Artinya:
Oh Hyang Widhi Wasa, ampunilah segala dosa hamba, ampunilah dosa dari ucapan hamba dan
ampunilah pula dosa dari pikiran hamba. Ampunilah hamba atas segaIa kelalaian hamba itu.

Om Santi, Santi, Santi Om
Artinya:
Semoga damai dihati, damai didunia, damai selalu.
Pengkajian :
Mantra puja Tri Sandya merupakan intisari dari seluruh mantra-mantra suci Weda. Hal ini dikarenakan mantra Puja Tri Sandhya telah mencakup segala jenis aspek dan pujian kepada Brahman atau Ida Sang Hyang Widi Wasa. Adapun diantaranya :
1.      Melakukan Puja Tri Sandhya berarti kita telah melakukan Japa, karena kita telah mengucapkan mantra suci “OM”dalam setiap baitnya yang berarti kita telah menyebut aksara suci Tuhan secara berulang. Dimana kata “Om” memiliki arti Brahman.
2.      Dengan melakukan Puja Tri Sandhya berarti kita telah mengakui dan memuji keagungan Tuhan dalam bentuk pengucapan mantram Gayatri yang terletak pada bait pertama.
3.      Dengan melakukan Puja Tri Sandhya berarti kita telah mengakui Tuhan hanya satu dan merupakan sumber dari segalanya dan beliau disebut Narayana, yang tercantum pada bait kedua.
4.      Dengan melakukan Puja Tri Sandhya berarti kita telah mengakui bahwa Tuhan itu Maha Kuasa dan memiliki banyak manifestasi atau nama (visvarupam) yang tercantum pada bait ketiga.
5.      Dengan melakukan Puja Tri Sandhya kita telah mengakui kesalahan dan dosa yang telah kita perbuat. Sehingga pada bait keempat ini kita memohon perlindungan diri kepada Tuhan dan memohon kesucian jiwa dan raga.
6.      Dengan melakukan Puja Tri Sandhya berarti kita telah memohon pengampunan dosa kepada Tuhan. Dalam bait kelima ini kita telah mengakui bahwa Tuhan adalah Maha Pelindung dan Penyelamat yang akan mengampuni seluruh dosa dalam wujud Beliau sebagai Sada Siwa.
7.      Bait ketujuh yaitu memohon pengampunan dosa kepada Tuhan.
Mengenai konsep Penyatuan Siwa Siddhanta, lebih ditonjolkan pada bait ke 4 yang menyatakan berbagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi Wasa itu menandakan bahwa banyak adanya sekte-sekte yaitu salah satunya Waisnawa dan Siwa Siddhanta. Kemudian menyatakan Ista Dewata, adalah Bhatara Siwa yang aktif sebagai sada siwa, sedangkan Bhatara Siwa senagai Parama Siwa bersifat tidak aktif atau sering disebut SUNIA (tanpa sifat, masih murni atau Nirguna Brahman.
Siwa tatwa ngaranya sukha tanpa wali dukha
Sadasiwa tatwa ngaranya tanpa wit tanpa tungtung ikang sukha
Paramasiwa tatwa ngaranya niskala tan wenang wiswatwan ikang sukha
(Wrespati Tattwa, 50)
Terjemahan :
Hakikat memuja Tuhan Siwa untuk mencapai kebahagiaan yang tidak berbalik pada kedukaan.
Memuja Tuhan sebagai Sadasiwa akan mencapai kebahagiaan yang tidak ada awal dan tidak ada akhirnya.
Memuja Tuhan sebagai Paramasiwa mencapai kebahagiaan niskala yang tidak dapat dilukiskan kebahagiaan itu.

2.            Mantram Puja Kramaning Sembah
Adapun mantram dari Puja Kramaning Sembah, yaitu :
1.            Sembah pertama ini adalah sembah puyung.

Om àtmà tattwàtmà sùddha màm swàha

Artinya: Ya Tuhan, atma atau jiwa dan kebenaran, bersihkanlah hamba.
2.            Ditujukan kepada Hyang Widhi dalam wujudNya sebagai Hyang Surya atau Siwa Aditya.
Om Adityasyà param jyoti

rakta tejo namo’stute

sweta pankaja madhyastha
 
bhàskaràya namo’stute

Artinya: Ya Tuhan, Sinar Hyang Surya Yang Maha Hebat. Engkau bersinar merah, hamba memuja Engkau. Hyang Surya yang berstana di tengah-tengah teratai putih. Hamba memuja Engkau yang menciptakan sinar matahari berkilauan.
3.            Mantram ini ditujukan kepada Istadewata pada hari dan tempat persembahyangan itu. Istadewata ini adalah Dewata yang diinginkan kehadiranNya pada waktu memuja. Istadewata adalah perwujudan Tuhan Yang Maha Esa dalam berbagai wujudNya.
Om nama dewa adhisthanàya

sarwa wyapi wai siwàya

padmàsana eka pratisthàya

ardhanareswaryai namo namah

Artinya: Ya Tuhan, kepada dewata yang bersemayam pada tempat yang luhur, kepada Hyang Siwa yang berada di mana-mana, kepada dewata yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai di suatu tempat, kepada Ardhanaresvari hamba memuja.

4.            Mantram ini adalah untuk memohon wara nugraha.
Om anugraha manoharam

dewa dattà nugrahaka

arcanam sarwà pùjanam

namah sarwà nugrahaka

Dewa-dewi mahàsiddhi

yajñanya nirmalàtmaka

laksmi siddhisca dirghàyuh

nirwighna sukha wrddisca

Artinya: Ya Tuhan, Engkau yang menarik hati pemberi anugrah, anugrah pemberian Dewata, pujaan segala pujaan, hamba memujaMu sebagai pemberi segala anugrah. Kemahasiddhian pada Dewa dan Dewi berwujud jadnya suci. kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan rohani dan jasmani.

5.            Mantram terakhir, adalah sembah puyung.
Om Dewa suksma paramà cintyàya nama swàha.
Om Sàntih, Sàntih, Sàntih, Om

Artinya: Ya Tuhan, hamba memuja Engkau Dewata yang tidak terpikirkan, maha tinggi dan maha gaib. Ya Tuhan, anugerahkan kepada hamba kedamaian, damai, damai, Ya Tuhan.

 Pengkajian :
Pada mantram Puja Kramaning Sembah, kesemua dari mantram tersebut diawali dengan mantram Om”, yang merupakan aksara suci Tuhan. Kemudian ketika pemujaan kepada Surya, berarti menuju kepada Sekte Sora yang mengagungkan Dewa Surya sebagai Dewa yang tertinggi. Selain itu penyebutan ini juga bisa disebutkan kepada Siwa Raditya yang merupakan penyebutan dari Dewa Siwa. Sehingga termasuk ke dalam sekte Siwa Siddhanta juga. Mantram selanjutnya menyatakan adanya konsep Ista Dewata, yang merupakan manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi dengan segala bentuk penyifatan disegala penjuru arah. Kemudian mantram terakhir, menyatakan Tuhan sebagai Acintya yaitu tak terpikirkan. Tuhan dalam keadaan Nirguna Brahman. Kemudian mantram keempat, yaitu nunas panugrahan merupakan mantram yang mengacu pada sekte Waisnawa. Karena beliau yang wujudnya sebagai Dewa Wisnu sebagai pemelihara yang memberikan panugrahan kepada umatnya. Dewa Wisnu tiada lain adalah Ida Sang Hyang Widi itu sendiri.


TUGAS KEDUA
MANTRAM SEHARI – HARI

1.            Mantram Pembersihan Tangan
Om Ang Argha Dwaya Ya Namah Swaha
Artinya : Om Hyang Widhi, Semoga kedua tangan hamba menjadi bersih.
2.            Mantram Pembersihan Mulut
Om Waktra Parisudha Ya Namah Swaha
Artinya : Om Hyang Widhi, semoga mulut hamba bersih
3.            Mantram Menyucikan Bunga
Om Puspadanta Ya Namah
Artinya : Ya, Tuhan sucikanlah bunga ini
4.            Mantram Untuk Dupa
Om Ang Dupa Dipastra Ya Namah
Artinya : Ya, Tuhan sucikanlah bunga ini.
5.            Mantram Duduk
Om Prasada Sthiti Carira Ciwa Suci Nirmala Ya Namah Svaha
Artinya : Ya, Tuhan dalam wujud Ciwa, suci tak ternoda, hormat hamba, hamba telah duduk dengan tenang.
6.            Mantram Membersihkan Kaki
Om Am Kham Kasodhaya Iswara Ya Namah Swaha
Artinya : Om Hyang Widhi, semoga kaki hamba bersih.

Pengkajian :
Dalam mantram-mantram tersebut, bila dikaji dari pengertian atau arti mantram itu sendiri lebih banyak menyebutkan “Hyang Widhi” sehingga konsep penyatuannya sudah mengarah pada konsep penyatuan sekte-sekte yang ada karena Hyang Widhi Tunggal adanya, akan tetapi disebut dengan banyak nama oleh orang bijaksana. Kemudian dalam setiap diawal mantram ada “Om”, yang merupakan aksara suci dari Tuhan sehingga hal itu juga menuju kepada Tuhan itu sendiri. Ajaran Siwa Siddhanta di Bali terdiri dari tiga kerangka utama, yaitu Tatwa, Susila dan Upacara. Tattwa atau filosofi yang mendasari ajaran Siwa adalah ajaran Siwa Tattwa. Didalam Siwa Tattwa, Sang Hyang WIdhi adalah Ida Bhatara Siwa. Dalam Lontar Jnana Siddhanta dinyatakan bahwa Ida Bhatara Ciwa adalah Esa yang bermanifestasi beraneka menjadi bhatara bhatari.
Dalam mantram duduk menyebutkan nama “Ciwa” yang dikatakan suci tak ternoda itu menandakan bahwa pada mantra mini terdapat pula Konsep Siwa Siddhanta. Sehingga sebagai kesimpulannya semua mntram tersebut sudah terdapat konsep-konsep Penyatuan Siwa Siddhanta. Semua Bhatara Bhatari adalah manifestasi dari Ida Bhatara Siwa, ialah beliau berada dimana-mana, diseluruh penjuru mata angin dan pangider-ider.

TUGAS KETIGA

1.            Mantram Saraswati
Om Brahma Putri Mahadewi
Brahmanya Brahma Wandhini
Sarawati Sayajanam
Prajanaya Saraswati
Om, Sarawati dipata ya namah

Artinya : Ya Tuhan, sakti-Mu selaku Maha Dewi dari Brahma, pancaran Pradana dari Brahma, Saraswati dewi kemampuan berpikir, Saraswati yang tak ada tara kebijaksanaanNya, Ya Dewi Saraswati, hamba menyembah padamu.

Pengkajian :
Bila di lihat dari mantram Saraswati tersebut, dapat disimpulkan bahwa mantram ini termasuk ke dalam sekte Sakta. Karena Saraswati merupakan sakti dari Dewa Brahma. Mengenai sekte Sakta ini merupakan sekte yang memuja dewa dan dewi dan salah satunya adalah Dewi Saraswati. Saraswati merupakan dewi ilmu pengetahuan. Bila dikaji dari namanya Saraswati yang artinya mengalir menyatakan bahwa ilmu pengetahuan itu mengalir adanya. Selain itu, juga diawal mantram adanya aksara suci Tuhan yaitu “Om”.

2.            Mantram Tumpek Landep
Adapun mantram dari Tumpek Landep ini adalah mantram pasupati, yaitu :
Om Sanghyang Pasupati Ang-Ung Mang ya namah svaha
Om Brahma astra pasupati, Visnu astra pasupati, Siva astra pasupati, Om ya namah svaha
Om Sanghyang Surya Chandra tumurun maring Sanghyang Aji Sarasvati-tumurun maring Sanghyang Gana, angawe pasupati maha sakti, angawe pasupati maha siddhi, angawe pasupati maha suci, angawe pangurip maha sakti, angawe pangurip maha siddhi, angawe pangurip maha suci, angurip sahananing raja karya teka urip, teka urip, teka urip.
Om Sanghyang Akasa Pertivi pasupati, angurip……..
Om eka vastu avighnam svaha
Om Sang-Bang-Tang-Ang-Ing-Nang-Mang-Sing-Wang-Yang-Ang-Ung-Mang
Om Brahma pasupati
Om Visnu Pasupati
Om Siva sampurna ya namah svaha
Pengkajian :
Mantra di atas bersumber dari lontar Sulayang Gni Pura Luhur Lempuyang Hari suci Tumpek Landep merupakan hari Rerahinan gumi dimana umat Hindu bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi  yang telah memberikan kecerdasan, pikiran tajam serta kemampuan yang tinggi kepada umat manusia (Viveka dan Vinaya), sehingga mampu menciptakan berbagai benda yang dapat memudahkan hidup termasuk teknologi. Mesti disadari, dalam konteks itu umat bukanlah memuja benda-benda tersebut, tetapi memuja kebesaran Tuhan.
Tumpek  Landep merupakan salah satu hari suci  dalam agama Hindu, yang masih berhubungan  dengan hari turunnya ilmu pengetahuan, yakni hari raya Saraswati. Setelah manusia mendapatkan ilmu pada hari Saraswati, kita juga  harus mengasah pikiran itu seruncing-runcingnya untuk bisa memberi manfaat dalam kehidupan. Dalam  perayaan Tumpek Landep masyarakat secara simbolis melakukan upacara untuk berbagai macam senjata, keris, TV, radio, pisau, tombak dan senapan.
Sumber lain mengatakan dalam ritual Tumpek Landep ada ungkapan landeping idep (pikiran), landeping wak (perkataan) dan landeping laksana (perbuatan). Hal itu mengandung makna bahwa pikiran, perkataan dan perbuatan mesti ‘ditajamkan’ ke arah kemajuan yang bermanfaat besar untuk kepentingan manusia.
Tumpek Landep merupakan piodalan untuk memuja Hyang Pasupati manifestasi Tuhan yang memberi anugerah kehidupan kepada makhluk hidup dan senjata kehidupan manusia. Karena itu pada saat Tumpek Landep, senjata yang runcing atau tajam seperti keris diupacarai sebagai rasa bakti umat kepada Tuhan yang telah menganugerahkan senjata atau peralatan yang memudahkan kehidupan manusia. Belakangan, tak hanya keris, peralatan manusia seperti kendaraan juga diupacarai.
Sebagai kesimpulannya, mantram pasupati dari Tumpek Landep ini termasuk kedalam sekte Siwa Siddhanta, dilihat dari Sang Hyang Pasupati yang merupakan nama lain dari Dewa Siwa. Kemudian, juga ada penyebutan kepada Dewa Wisnu sehingga juga ada pengaruh dari sekte Waisnawa.

TUGAS KEEMPAT
MANTRAM PAGERWESI
1.                  Pengertian Hari Raya Pagerwesi
Kata "pagerwesi" artinya pagar dari besi. Ini me-lambangkan suatu perlindungan yang kuat. Segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang bernilai tinggi agar jangan mendapat gangguan atau dirusak. Hari Raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak. Nama Tuhan yang dipuja pada hari raya ini adalah Sanghyang Pramesti Guru.
Sanghyang Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melebur segala hal yang buruk. Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Pramesti Guru, beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia. Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun, sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur.
2.                  Mantram Hari Raya Pagerwesi
Mantra adalah kata suci atau bertuah yang dapat memberi pengaruh atau getaran yang bersifat magis, apabila disebutkan maupun dijapakan, baik secara ingatan (mansika), berbisik (upamsu), maupun dengan ucapan (wacika).
Mantra merupakan unsur terpenting dalam agama Hindu, karena setiap ada upacara keagamaan maupun sembahyang pasti akan terdengar mantra. Oleh karena mantra tersebut sangat diyakini mengandung kekuatan suci dan gaib. Kata mantra berasal dari kata “man” dan “yantra”, yang artinya alat untuk melindungi pikiran. Pengucapan mantra bertujuan untuk melindungi pikiran dari berbagai macam godaan, sehingga dapat memikirkan hal-hal yang bermanfaat dan senantiasa berjalan pada dharma dalam rangka mendapatkan pencerahan spiritual. (Mpu Daksa Yaska,2011: 237-238). Seperti halnya, mantram yang diucapkan pada hari raya Pagerwesi.
Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta. Dalam lontar Sundarigama disebutkan:
"Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh, wenang Sang Purohita ngarcana paduka Bhatara Prameswara, Widhiwidanania:
Daksina, suci 1, pras penyeneng, sesayut Pancalingga, penek ajuman, saha raka, wangi-wangi saruntutannia, haturakna ring sanggar Kamulan. Kunang ring sira wwang :
Sesayut pageh hurip, 1 pryascita tengah wengi, pasang yoga Samadhi ta. Mwah hana labha ring Panca Mahabutha :
Segehan warna, anut huriping Pancadesa, ring natar Sanggah, mwah segehan Agung 1”

(Sundarigama)
Terjemahan:
Pada hari Budha Kliwon (Sinta), disebut Pagerwesi, saat Sanghyang Pramesti Guru (Ciwa) dan diikuti oleh Dewata Nawasanga, yang bertujuan untuk menyelamatkan jiwa segala mahluk hidup yang ditakdirkanNya dialam ini semuanya, karena patutlah para Sulinggih memuja ciptaan Bhatara Prameswara. Upakaranya ialah :
Daksina, suci 1, peras penyeneng, sesayut pancalingga, penek ajuman, serta raka-raka, wangi-wangi, dan perlengkapannya, yang dihaturkan (disuguhkan) di Sanggah Kemulan.
Adapun bebanten bagi orang-orang ialah :
Sesayut pageh hurip 1, serta prayascita, setelah tengah malam, dilakukan yoga semadi (renungan suci).
Dan ada pula suguhan kepada Panca Maha Butha (lima unsur alam), yaitu Segehan berwarna, sesuai dengan neptu kelima arah (arah penjuru mata angin), dan diselenggarakan di natar sanggah, dan disertai dengan segehan agung 1 (sebuah).
Kemudian adapun mantra yang dipergunakan saat Hari Raya Pagerwesi adalah
“Om Giripati maha wiryam, Mahadewapratista, lingam, sarwa Dewa Pranayanam. Sarwa Jagat Pratisnam. Om Giripati dipata ya namah”
Terjemahan :
Ya Tuhan, bergelar Giripati yang Maha Agung, Mahadewa dengan lingga yang mantap, semua Dewa sembah padaMu
Om Giripati, hamba memujaMu.

Dilihat dari Lontar Sundarigama, menyebutkan bahwa hari raya pagerwesi adalah beryoganya Sang Hyang Siwa, kemudian tentang upakara, serta bebanten bagi orang-orang. Kemudian juga dalam mantram yang diucapkan pada hari raya Pagerwesi menyebutkan kata lingga yang merupakan lambang Dewa Siwa.  Lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti, keterangan, petunjuk, lambang kemaluan laki-laki terutama lingga Siwa dalam bentuk tiang batu, Patung Dewa, titik tuju pemujaan, titik pusat, pusat, poros, sumbu (Zoetmulder, 2000 601). Sehingga bila dikaitkan mantram ini mengandung sekte Siva Siddhanta, karena Siwa dianggap  Dewa tertinggi yang  disebut Sanghyang Pramesti Guru yang diikuti oleh Dewata Nawasanga dan beryoga dengan lingga yang mantap.
3.                  Makna Filosofi
Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama, Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati.
Mengadakan yoga berarti Tuhan menciptakan diri-Nya sebagai guru. Barang siapa menyucikan dirinya akan dapat mencapai kekuatan yoga dari Hyang Pramesti Guru. Kekuatan itulah yang akan dipakai memagari diri. Pagar yang paling kuat untuk melindungi diri kita adalah ilmu yang berasal dari guru sejati pula. Guru yang sejati adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat megisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.
Pada hari raya Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati . Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan "pager besi" untuk melindungi hidup kita di dunia ini. Di samping itu Sang Hyang Pramesti Guru beryoga bersama Dewata Nawa Sanga adalah untuk "ngawerdhiaken sarwa tumitah muang sarwa tumuwuh."
Ngawerdhiaken artinya mengembangkan. Tumitah artinya yang ditakdirkan atau yang terlahirkan. Tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan. Mengembangkan hidup dan tumbuh-tumbuhan perlulah kita berguru agar ada keseimbangan.
Dalam Bhagavadgita disebutkan ada tiga sumber kemakmuran yaitu:
a.       Krsi yang artinya pertanian (sarwa tumuwuh).
b.      Goraksya, artinya peternakan atau memelihara sapi sebagai induk semua hewan.
c.       Wanijyam, artinya perdagangan. Berdagang adalah suatu pengabdian kepada produsen dan konsumen. Keuntungan yang benar, berdasarkan dharma apabila produsen dan konsumen diuntungkan. Kalau ada pihak yang dirugikan, itu berarti ada kecurangan. Keuntungan yang didapat dari kecurangan jelas tidak dikehendaki dharma.
Kehidupan tidak terpagari apabila tidak berkembangnya sarwa tumitah dan sarwa tumuwuh. Moral manusia akan ambruk apabila manusia dilanda kemiskinan baik miskin moral maupun miskin material. Hari raya Pagerwesi adalah hari untuk mengingatkan kita untuk berlindung dan berbakti kepada Tuhan sebagai guru sejati. Berlindung dan berbakti adalah salah satu ciri manusia bermoral tanpa kesombongan.
Mengembangkan pertanian dan peternakan bertujuan untuk memagari manusia dari kemiskinan material. Karena itu tepatlah bila hari raya Pagerwesi dipandang sebagai hari untuk memerangi diri dengan kekuatan meterial. Kalau kedua hal itu (pertanian dan peternakan) kuat, maka adharma tidak dapat masuk menguasai manusia. Yang menarik untuk dipahami adalah Pagerwesi adalah hari raya yang lebih diperuntukkan para pendeta (sang purohita). Hal ini dapat dipahami, karena untuk menjangkau vibrasi yoga Sanghyang Pramesti Guru tidaklah mudah. Hanya orang tertentu yang dapat menjangkau vibrasi Sanghyang Pramesti Guru. Karena itu ditekankan pada pendeta dan beliaulah yang akan melanjutkan pada masyarakat umum. Dalam agama Hindu, purohita adalah adi guru loka yaitu guru utama dari masyarakat. Sang Purohita-lah yang lebih mampu menggerakkan atma dengan tapa brata.  
Bila dikaitkan dengan Siwa Siddhanta, Hari Raya Pagerwesi adalah memuja Sang Hyang Pramesti Guru yaitu Dewa Siwa. Sehingga sektenya adalah Siwa Siddhanta. Karena memuja Dewa Siwa pada Hari Raya ini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar