SIVA SIDDHANTA II
TUGAS UTS
“PENGKAJIAN KONSEP SIWA SIDDHANTA
DALAM MANTRAM”
IHDN Denpasar
Oleh :
Nama : Luh Widastri
NIM :
10.1.1.1.1. 3820
Kelas : PAH A / Semester V
Jurusan
Pendidikan Agama Hindu
Fakultas
Dharma Acarya
Institut
Hindu Dharma Negeri Denpasar
2012
TUGAS PERTAMA
1.
Mantram
Puja Tri Sandhya
Adapun
keenam bait dari mantram puja Tri Sandhya ini, adalah :
- Om, Om
Om
Bhur Bhuwah Swah,
Tat
Sawitur Warenyam,
Bhargo
Dewasya Dhimahi,
Dhiyo
Yo Nah Prachodayat,
Artinya:
Ya
Hyang Widhi yang menguasai ketiga dunia ini, yang maha suci dan sumber segala
kehidupan, sumber segala cahaya, semoga limpahkan pada budi nurani kami
penerangan sinar cahayaMu yang maha suci.
- Om Narayanad Ewedam Sarwam,
Yad
Bhutam Yasca Bhawyam,
Niskalo
Nirlano Nirwikalpo,
Nlraksatah Suddho Dewo Eko,
Narayana
Nadwityo Asti Kascit.
Artinya:
Ya
Hyang Widhi, darimulah segala yang sudah ada dan yang akan ada di alam ini
berasal dan kembali nantinya. Engkau adaIah gaib, tiada berwujud, di atas
segala kebingungan,tak termusnahkan. Engkau adalah maha cemerlang, maha suci,
maha esa dan tiada duanya.
- Om Twam Siwah Twam Mahadewah,
Iswarah Parameswara,
Brahma Wisnusca Rudrasca,
Purusah Parikirtitah,
Artinya:
Engkau disebut Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma dan Wisnu dan juga Rudra. Engkau adalah asal mula dari segala yang ada.
Engkau disebut Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma dan Wisnu dan juga Rudra. Engkau adalah asal mula dari segala yang ada.
- Om Papo’ham Papakarmaham ,
Papatma
Papasambhawah,
Trahi
Mam Pundarikaksah,
Sabahyabhyantara
Sucih.
Artinya:
Oh Hyang Widhi Wasa, hamba ini papa, jiwa hamba papa dan kelahiran hambapun papa, perbuatan hamba papa, Ya Hyang Widhi, selamatkanlah hamba dari segala kenistaan ini, dapatlah disucikan lahir dan batin hamba.
Oh Hyang Widhi Wasa, hamba ini papa, jiwa hamba papa dan kelahiran hambapun papa, perbuatan hamba papa, Ya Hyang Widhi, selamatkanlah hamba dari segala kenistaan ini, dapatlah disucikan lahir dan batin hamba.
- Om Ksama Swamam Mahadewa,
Sarwaprani
Hitangkarah,
Mam
Mocca Sarwapapebhyah,
Palayaswa Sadasiwa.
Artinya:
Ampunilah hamba. oh Hyang Widhi, penyelamat segala makhluk. Lepaskanlah , kiranya hamba dari segala kepapaan ini dan tuntunlah hamba, selamatkan dan lindungilah hamba oh Hyang Widhi Wasa.
Ampunilah hamba. oh Hyang Widhi, penyelamat segala makhluk. Lepaskanlah , kiranya hamba dari segala kepapaan ini dan tuntunlah hamba, selamatkan dan lindungilah hamba oh Hyang Widhi Wasa.
- Om Ksantawya Kayika Dosah.
Ksantawyo
Wacika Mama,
Ksantawya
Manasa Dosah,
Tat
Pramadat Ksamaswa Mam.
Artinya:
Oh Hyang Widhi Wasa, ampunilah segala dosa hamba, ampunilah dosa dari ucapan hamba dan
ampunilah pula dosa dari pikiran hamba. Ampunilah hamba atas segaIa kelalaian hamba itu.
Oh Hyang Widhi Wasa, ampunilah segala dosa hamba, ampunilah dosa dari ucapan hamba dan
ampunilah pula dosa dari pikiran hamba. Ampunilah hamba atas segaIa kelalaian hamba itu.
Om Santi, Santi, Santi Om
Artinya:
Semoga damai dihati, damai didunia, damai selalu.
Semoga damai dihati, damai didunia, damai selalu.
Pengkajian
:
Mantra puja Tri Sandya merupakan
intisari dari seluruh mantra-mantra suci Weda. Hal ini dikarenakan mantra Puja
Tri Sandhya telah mencakup segala jenis aspek dan pujian kepada Brahman atau
Ida Sang Hyang Widi Wasa. Adapun diantaranya :
1.
Melakukan
Puja Tri Sandhya berarti kita telah melakukan Japa, karena kita telah
mengucapkan mantra suci “OM”dalam setiap baitnya yang berarti kita telah
menyebut aksara suci Tuhan secara berulang. Dimana kata “Om” memiliki arti
Brahman.
2.
Dengan
melakukan Puja Tri Sandhya berarti kita telah mengakui dan memuji keagungan
Tuhan dalam bentuk pengucapan mantram Gayatri yang terletak pada bait pertama.
3.
Dengan
melakukan Puja Tri Sandhya berarti kita telah mengakui Tuhan hanya satu dan
merupakan sumber dari segalanya dan beliau disebut Narayana, yang tercantum
pada bait kedua.
4.
Dengan
melakukan Puja Tri Sandhya berarti kita telah mengakui bahwa Tuhan itu Maha
Kuasa dan memiliki banyak manifestasi atau nama (visvarupam) yang tercantum
pada bait ketiga.
5.
Dengan
melakukan Puja Tri Sandhya kita telah mengakui kesalahan dan dosa yang telah
kita perbuat. Sehingga pada bait keempat ini kita memohon perlindungan diri
kepada Tuhan dan memohon kesucian jiwa dan raga.
6.
Dengan
melakukan Puja Tri Sandhya berarti kita telah memohon pengampunan dosa kepada
Tuhan. Dalam bait kelima ini kita telah mengakui bahwa Tuhan adalah Maha
Pelindung dan Penyelamat yang akan mengampuni seluruh dosa dalam wujud Beliau
sebagai Sada Siwa.
7.
Bait
ketujuh yaitu memohon pengampunan dosa kepada Tuhan.
Mengenai konsep Penyatuan Siwa
Siddhanta, lebih ditonjolkan pada bait ke 4 yang menyatakan berbagai
manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi Wasa itu menandakan bahwa banyak adanya
sekte-sekte yaitu salah satunya Waisnawa dan Siwa Siddhanta. Kemudian menyatakan
Ista Dewata, adalah Bhatara Siwa yang aktif sebagai sada siwa, sedangkan
Bhatara Siwa senagai Parama Siwa bersifat tidak aktif atau sering disebut SUNIA
(tanpa sifat, masih murni atau Nirguna Brahman.
Siwa tatwa ngaranya sukha tanpa wali dukha
Sadasiwa tatwa ngaranya tanpa wit tanpa tungtung ikang sukha
Paramasiwa tatwa ngaranya niskala tan wenang wiswatwan ikang
sukha
(Wrespati
Tattwa, 50)
Terjemahan :
Hakikat memuja Tuhan Siwa untuk
mencapai kebahagiaan yang tidak berbalik pada kedukaan.
Memuja Tuhan sebagai Sadasiwa akan
mencapai kebahagiaan yang tidak ada awal dan tidak ada akhirnya.
Memuja Tuhan sebagai Paramasiwa
mencapai kebahagiaan niskala yang tidak dapat dilukiskan kebahagiaan itu.
2.
Mantram
Puja Kramaning Sembah
Adapun mantram dari
Puja Kramaning Sembah, yaitu :
1.
Sembah pertama ini adalah sembah puyung.
Om àtmà tattwàtmà
sùddha màm swàha
Artinya: Ya Tuhan, atma atau jiwa dan kebenaran, bersihkanlah hamba.
2.
Ditujukan kepada Hyang Widhi dalam
wujudNya sebagai Hyang Surya atau Siwa Aditya.
Om Adityasyà
param jyoti
rakta tejo namo’stute
sweta pankaja madhyastha
bhàskaràya namo’stute
Artinya: Ya Tuhan,
Sinar Hyang Surya Yang Maha Hebat. Engkau bersinar merah, hamba memuja Engkau.
Hyang Surya yang berstana di tengah-tengah teratai putih. Hamba memuja Engkau
yang menciptakan sinar matahari berkilauan.
3.
Mantram ini ditujukan kepada Istadewata
pada hari dan tempat persembahyangan itu. Istadewata ini adalah Dewata yang
diinginkan kehadiranNya pada waktu memuja. Istadewata adalah perwujudan Tuhan
Yang Maha Esa dalam berbagai wujudNya.
Om
nama dewa adhisthanàya
sarwa wyapi wai siwàya
padmàsana eka pratisthàya
ardhanareswaryai namo namah
Artinya: Ya Tuhan, kepada dewata yang bersemayam pada tempat yang luhur, kepada Hyang Siwa yang berada di mana-mana, kepada dewata yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai di suatu tempat, kepada Ardhanaresvari hamba memuja.
4.
Mantram ini adalah untuk memohon wara
nugraha.
Om
anugraha manoharam
dewa dattà nugrahaka
arcanam sarwà pùjanam
namah sarwà nugrahaka
Dewa-dewi mahàsiddhi
yajñanya nirmalàtmaka
laksmi siddhisca dirghàyuh
nirwighna sukha wrddisca
Artinya: Ya Tuhan, Engkau yang menarik hati pemberi anugrah, anugrah pemberian Dewata, pujaan segala pujaan, hamba memujaMu sebagai pemberi segala anugrah. Kemahasiddhian pada Dewa dan Dewi berwujud jadnya suci. kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan rohani dan jasmani.
5.
Mantram terakhir, adalah sembah puyung.
Om Dewa suksma
paramà cintyàya nama swàha.
Om Sàntih,
Sàntih, Sàntih, Om
Artinya: Ya Tuhan, hamba memuja Engkau Dewata yang tidak terpikirkan, maha tinggi dan maha gaib. Ya Tuhan, anugerahkan kepada hamba kedamaian, damai, damai, Ya Tuhan.
Pengkajian
:
Pada mantram
Puja Kramaning Sembah, kesemua dari mantram tersebut diawali dengan mantram
Om”, yang merupakan aksara suci Tuhan. Kemudian ketika pemujaan kepada Surya,
berarti menuju kepada Sekte Sora yang mengagungkan Dewa Surya sebagai Dewa yang
tertinggi. Selain itu penyebutan ini juga bisa disebutkan kepada Siwa Raditya
yang merupakan penyebutan dari Dewa Siwa. Sehingga termasuk ke dalam sekte Siwa
Siddhanta juga. Mantram selanjutnya menyatakan adanya konsep Ista Dewata, yang
merupakan manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi dengan segala bentuk penyifatan
disegala penjuru arah. Kemudian mantram terakhir, menyatakan Tuhan sebagai
Acintya yaitu tak terpikirkan. Tuhan dalam keadaan Nirguna Brahman. Kemudian
mantram keempat, yaitu nunas panugrahan merupakan mantram yang mengacu pada
sekte Waisnawa. Karena beliau yang wujudnya sebagai Dewa Wisnu sebagai
pemelihara yang memberikan panugrahan kepada umatnya. Dewa Wisnu tiada lain
adalah Ida Sang Hyang Widi itu sendiri.
TUGAS
KEDUA
MANTRAM
SEHARI – HARI
1.
Mantram Pembersihan Tangan
Om
Ang Argha Dwaya Ya Namah Swaha
Artinya : Om Hyang
Widhi, Semoga kedua tangan hamba menjadi bersih.
2.
Mantram Pembersihan Mulut
Om
Waktra Parisudha Ya Namah Swaha
Artinya : Om Hyang
Widhi, semoga mulut hamba bersih
3.
Mantram Menyucikan Bunga
Om
Puspadanta Ya Namah
Artinya : Ya, Tuhan
sucikanlah bunga ini
4.
Mantram Untuk Dupa
Om
Ang Dupa Dipastra Ya Namah
Artinya : Ya, Tuhan
sucikanlah bunga ini.
5.
Mantram Duduk
Om
Prasada Sthiti Carira Ciwa Suci Nirmala Ya Namah Svaha
Artinya : Ya, Tuhan
dalam wujud Ciwa, suci tak ternoda, hormat hamba, hamba telah duduk dengan
tenang.
6.
Mantram Membersihkan Kaki
Om
Am Kham Kasodhaya Iswara Ya Namah Swaha
Artinya : Om Hyang
Widhi, semoga kaki hamba bersih.
Pengkajian
:
Dalam
mantram-mantram tersebut, bila dikaji dari pengertian atau arti mantram itu
sendiri lebih banyak menyebutkan “Hyang Widhi” sehingga konsep penyatuannya
sudah mengarah pada konsep penyatuan sekte-sekte yang ada karena Hyang Widhi
Tunggal adanya, akan tetapi disebut dengan banyak nama oleh orang bijaksana.
Kemudian dalam setiap diawal mantram ada “Om”, yang merupakan aksara suci dari
Tuhan sehingga hal itu juga menuju kepada Tuhan itu sendiri. Ajaran Siwa
Siddhanta di Bali terdiri dari tiga kerangka utama, yaitu Tatwa, Susila dan
Upacara. Tattwa atau filosofi yang mendasari ajaran Siwa adalah ajaran Siwa
Tattwa. Didalam Siwa Tattwa, Sang Hyang WIdhi adalah Ida Bhatara Siwa. Dalam
Lontar Jnana Siddhanta dinyatakan bahwa Ida Bhatara Ciwa adalah Esa yang
bermanifestasi beraneka menjadi bhatara bhatari.
Dalam mantram
duduk menyebutkan nama “Ciwa” yang dikatakan suci tak ternoda itu menandakan
bahwa pada mantra mini terdapat pula Konsep Siwa Siddhanta. Sehingga sebagai
kesimpulannya semua mntram tersebut sudah terdapat konsep-konsep Penyatuan Siwa
Siddhanta. Semua Bhatara Bhatari adalah manifestasi dari Ida Bhatara Siwa,
ialah beliau berada dimana-mana, diseluruh penjuru mata angin dan
pangider-ider.
TUGAS
KETIGA
1.
Mantram
Saraswati
Om Brahma Putri
Mahadewi
Brahmanya Brahma
Wandhini
Sarawati Sayajanam
Prajanaya Saraswati
Om, Sarawati dipata ya
namah
Artinya : Ya Tuhan,
sakti-Mu selaku Maha Dewi dari Brahma, pancaran Pradana dari Brahma, Saraswati
dewi kemampuan berpikir, Saraswati yang tak ada tara kebijaksanaanNya, Ya Dewi
Saraswati, hamba menyembah padamu.
Pengkajian
:
Bila di lihat
dari mantram Saraswati tersebut, dapat disimpulkan bahwa mantram ini termasuk
ke dalam sekte Sakta. Karena Saraswati merupakan sakti dari Dewa Brahma.
Mengenai sekte Sakta ini merupakan sekte yang memuja dewa dan dewi dan salah
satunya adalah Dewi Saraswati. Saraswati merupakan dewi ilmu pengetahuan. Bila
dikaji dari namanya Saraswati yang artinya mengalir menyatakan bahwa ilmu
pengetahuan itu mengalir adanya. Selain itu, juga diawal mantram adanya aksara
suci Tuhan yaitu “Om”.
2.
Mantram
Tumpek Landep
Adapun mantram dari Tumpek Landep
ini adalah mantram pasupati, yaitu :
Om Sanghyang Pasupati
Ang-Ung Mang ya namah svaha
Om Brahma astra pasupati,
Visnu astra pasupati, Siva astra pasupati, Om ya namah svaha
Om Sanghyang Surya Chandra
tumurun maring Sanghyang Aji Sarasvati-tumurun maring Sanghyang Gana, angawe
pasupati maha sakti, angawe pasupati maha siddhi, angawe pasupati maha suci,
angawe pangurip maha sakti, angawe pangurip maha siddhi, angawe pangurip maha
suci, angurip sahananing raja karya teka urip, teka urip, teka urip.
Om Sanghyang Akasa Pertivi
pasupati, angurip……..
Om eka vastu avighnam
svaha
Om Sang-Bang-Tang-Ang-Ing-Nang-Mang-Sing-Wang-Yang-Ang-Ung-Mang
Om Brahma pasupati
Om Visnu Pasupati
Om Siva sampurna ya namah
svaha
Pengkajian :
Mantra
di atas bersumber dari lontar Sulayang Gni Pura Luhur Lempuyang Hari suci
Tumpek Landep merupakan hari Rerahinan gumi dimana umat Hindu bersyukur kepada
Ida Sang Hyang Widhi yang telah memberikan kecerdasan, pikiran tajam
serta kemampuan yang tinggi kepada umat manusia (Viveka dan Vinaya), sehingga
mampu menciptakan berbagai benda yang dapat memudahkan hidup termasuk
teknologi. Mesti disadari, dalam konteks itu umat bukanlah memuja benda-benda
tersebut, tetapi memuja kebesaran Tuhan.
Tumpek Landep
merupakan salah satu hari suci dalam agama Hindu, yang masih
berhubungan dengan hari turunnya ilmu pengetahuan, yakni hari raya Saraswati. Setelah manusia mendapatkan ilmu pada
hari Saraswati, kita juga harus mengasah pikiran itu seruncing-runcingnya
untuk bisa memberi manfaat dalam kehidupan. Dalam perayaan Tumpek Landep
masyarakat secara simbolis melakukan upacara untuk berbagai macam senjata,
keris, TV, radio, pisau, tombak dan senapan.
Sumber lain
mengatakan dalam ritual Tumpek Landep ada ungkapan landeping idep (pikiran),
landeping wak (perkataan) dan landeping laksana (perbuatan). Hal itu mengandung
makna bahwa pikiran, perkataan dan perbuatan mesti ‘ditajamkan’ ke arah
kemajuan yang bermanfaat besar untuk kepentingan manusia.
Tumpek Landep
merupakan piodalan untuk memuja Hyang Pasupati manifestasi Tuhan yang memberi
anugerah kehidupan kepada makhluk hidup dan senjata kehidupan manusia. Karena
itu pada saat Tumpek Landep, senjata yang runcing atau tajam seperti keris
diupacarai sebagai rasa bakti umat kepada Tuhan yang telah menganugerahkan
senjata atau peralatan yang memudahkan kehidupan manusia. Belakangan, tak hanya
keris, peralatan manusia seperti kendaraan juga diupacarai.
Sebagai
kesimpulannya, mantram pasupati dari Tumpek Landep ini termasuk kedalam sekte
Siwa Siddhanta, dilihat dari Sang Hyang Pasupati yang merupakan nama lain dari
Dewa Siwa. Kemudian, juga ada penyebutan kepada Dewa Wisnu sehingga juga ada
pengaruh dari sekte Waisnawa.
TUGAS KEEMPAT
MANTRAM PAGERWESI
1.
Pengertian
Hari Raya Pagerwesi
Kata
"pagerwesi" artinya pagar dari besi. Ini me-lambangkan suatu
perlindungan yang kuat. Segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang
bernilai tinggi agar jangan mendapat gangguan atau dirusak. Hari Raya Pagerwesi
sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam
bahasa Bali disebut magehang awak. Nama Tuhan yang dipuja pada hari raya ini
adalah Sanghyang Pramesti Guru.
Sanghyang
Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk
melebur segala hal yang buruk. Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Pramesti
Guru, beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia. Hidup tanpa guru
sama dengan hidup tanpa penuntun, sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi
ngawur.
2.
Mantram Hari
Raya Pagerwesi
Mantra adalah
kata suci atau bertuah yang dapat memberi pengaruh atau getaran yang bersifat
magis, apabila disebutkan maupun dijapakan, baik secara ingatan (mansika),
berbisik (upamsu), maupun dengan ucapan (wacika).
Mantra
merupakan unsur terpenting dalam agama Hindu, karena setiap ada upacara
keagamaan maupun sembahyang pasti akan terdengar mantra. Oleh karena mantra
tersebut sangat diyakini mengandung kekuatan suci dan gaib. Kata mantra berasal
dari kata “man” dan “yantra”, yang artinya alat untuk melindungi pikiran.
Pengucapan mantra bertujuan untuk melindungi pikiran dari berbagai macam
godaan, sehingga dapat memikirkan hal-hal yang bermanfaat dan senantiasa
berjalan pada dharma dalam rangka mendapatkan pencerahan spiritual. (Mpu Daksa
Yaska,2011: 237-238). Seperti halnya, mantram yang diucapkan pada hari raya
Pagerwesi.
Hari Raya
Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta. Dalam lontar
Sundarigama disebutkan:
"Budha
Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring
watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana
kabeh, wenang Sang Purohita ngarcana paduka Bhatara Prameswara, Widhiwidanania:
Daksina,
suci 1, pras penyeneng, sesayut Pancalingga, penek ajuman, saha raka,
wangi-wangi saruntutannia, haturakna ring sanggar Kamulan. Kunang ring sira
wwang :
Sesayut
pageh hurip, 1 pryascita tengah wengi, pasang yoga Samadhi ta. Mwah hana labha
ring Panca Mahabutha :
Segehan
warna, anut huriping Pancadesa, ring natar Sanggah, mwah segehan Agung 1”
(Sundarigama)
Terjemahan:
Pada hari Budha Kliwon (Sinta), disebut
Pagerwesi, saat Sanghyang Pramesti Guru (Ciwa) dan diikuti oleh Dewata Nawasanga,
yang bertujuan untuk menyelamatkan jiwa segala mahluk hidup yang ditakdirkanNya
dialam ini semuanya, karena patutlah para Sulinggih memuja ciptaan Bhatara
Prameswara. Upakaranya ialah :
Daksina, suci 1, peras penyeneng, sesayut
pancalingga, penek ajuman, serta raka-raka, wangi-wangi, dan perlengkapannya,
yang dihaturkan (disuguhkan) di Sanggah Kemulan.
Adapun bebanten bagi orang-orang ialah :
Sesayut pageh hurip 1, serta prayascita, setelah
tengah malam, dilakukan yoga semadi (renungan suci).
Dan ada pula suguhan kepada Panca Maha Butha
(lima unsur alam), yaitu Segehan berwarna, sesuai dengan neptu kelima arah
(arah penjuru mata angin), dan diselenggarakan di natar sanggah, dan disertai
dengan segehan agung 1 (sebuah).
Kemudian adapun mantra yang dipergunakan saat
Hari Raya Pagerwesi adalah
“Om
Giripati maha wiryam, Mahadewapratista, lingam, sarwa Dewa Pranayanam. Sarwa
Jagat Pratisnam. Om Giripati dipata ya namah”
Terjemahan :
Ya Tuhan, bergelar Giripati yang
Maha Agung, Mahadewa dengan lingga yang mantap, semua Dewa sembah padaMu
Om Giripati, hamba memujaMu.
Dilihat dari Lontar Sundarigama, menyebutkan bahwa hari raya
pagerwesi adalah beryoganya Sang Hyang Siwa, kemudian tentang upakara, serta
bebanten bagi orang-orang. Kemudian juga dalam mantram yang diucapkan pada hari
raya Pagerwesi menyebutkan kata lingga yang merupakan lambang Dewa Siwa. Lingga berasal dari
bahasa Sansekerta yang berarti tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti,
keterangan, petunjuk, lambang kemaluan laki-laki terutama lingga Siwa dalam
bentuk tiang batu, Patung Dewa, titik tuju pemujaan, titik pusat, pusat, poros,
sumbu (Zoetmulder, 2000 601). Sehingga bila dikaitkan mantram ini mengandung
sekte Siva Siddhanta, karena Siwa dianggap
Dewa tertinggi yang disebut
Sanghyang Pramesti Guru yang diikuti oleh Dewata Nawasanga dan beryoga dengan
lingga yang mantap.
3.
Makna
Filosofi
Sebagaimana
telah disebutkan dalam lontar Sundarigama, Pagerwesi yang jatuh pada Budha
Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh
Dewata Nawa Sangga. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah
Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati.
Mengadakan yoga
berarti Tuhan menciptakan diri-Nya sebagai guru. Barang siapa menyucikan
dirinya akan dapat mencapai kekuatan yoga dari Hyang Pramesti Guru. Kekuatan
itulah yang akan dipakai memagari diri. Pagar yang paling kuat untuk melindungi
diri kita adalah ilmu yang berasal dari guru sejati pula. Guru yang sejati
adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah
memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri,
menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. Ini berarti kita harus
menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat
megisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.
Pada hari raya
Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai
guru sejati . Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan "pager
besi" untuk melindungi hidup kita di dunia ini. Di samping itu Sang Hyang
Pramesti Guru beryoga bersama Dewata Nawa Sanga adalah untuk "ngawerdhiaken sarwa tumitah muang sarwa
tumuwuh."
Ngawerdhiaken artinya mengembangkan. Tumitah artinya yang
ditakdirkan atau yang terlahirkan. Tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan.
Mengembangkan hidup dan tumbuh-tumbuhan perlulah kita berguru agar ada
keseimbangan.
Dalam Bhagavadgita disebutkan
ada tiga sumber kemakmuran yaitu:
a. Krsi yang artinya pertanian (sarwa
tumuwuh).
b. Goraksya, artinya peternakan atau
memelihara sapi sebagai induk semua hewan.
c. Wanijyam,
artinya perdagangan. Berdagang adalah suatu pengabdian kepada produsen dan
konsumen. Keuntungan yang benar, berdasarkan dharma apabila produsen dan
konsumen diuntungkan. Kalau ada pihak yang dirugikan, itu berarti ada kecurangan.
Keuntungan yang didapat dari kecurangan jelas tidak dikehendaki dharma.
Kehidupan tidak
terpagari apabila tidak berkembangnya sarwa
tumitah dan sarwa tumuwuh. Moral manusia akan ambruk apabila manusia
dilanda kemiskinan baik miskin moral maupun miskin material. Hari raya
Pagerwesi adalah hari untuk mengingatkan kita untuk berlindung dan berbakti
kepada Tuhan sebagai guru sejati. Berlindung dan berbakti adalah salah satu
ciri manusia bermoral tanpa kesombongan.
Mengembangkan
pertanian dan peternakan bertujuan untuk memagari manusia dari kemiskinan
material. Karena itu tepatlah bila hari raya Pagerwesi dipandang sebagai hari
untuk memerangi diri dengan kekuatan meterial. Kalau kedua hal itu (pertanian
dan peternakan) kuat, maka adharma tidak dapat masuk menguasai manusia. Yang
menarik untuk dipahami adalah Pagerwesi adalah hari raya yang lebih
diperuntukkan para pendeta (sang purohita). Hal ini dapat dipahami, karena
untuk menjangkau vibrasi yoga Sanghyang Pramesti Guru tidaklah mudah. Hanya
orang tertentu yang dapat menjangkau vibrasi Sanghyang Pramesti Guru. Karena
itu ditekankan pada pendeta dan beliaulah yang akan melanjutkan pada masyarakat
umum. Dalam agama Hindu, purohita adalah adi guru loka yaitu guru utama dari
masyarakat. Sang Purohita-lah yang lebih mampu menggerakkan atma dengan tapa
brata.
Bila dikaitkan
dengan Siwa Siddhanta, Hari Raya Pagerwesi adalah memuja Sang Hyang Pramesti
Guru yaitu Dewa Siwa. Sehingga sektenya adalah Siwa Siddhanta. Karena memuja
Dewa Siwa pada Hari Raya ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar