Jumat, 03 Januari 2014

Pengkajian Konsep Siwa Siddhanta Dalam Mantram



SIVA SIDDHANTA II
TUGAS UTS
“PENGKAJIAN KONSEP SIWA SIDDHANTA
DALAM MANTRAM”


 
IHD


IHDN Denpasar
Oleh :
Nama  : Luh Widastri
NIM    : 10.1.1.1.1. 3820
Kelas   : PAH A / Semester V


Jurusan Pendidikan Agama Hindu
Fakultas Dharma Acarya
Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
2012

TUGAS PERTAMA
1.            Mantram Puja Tri Sandhya
Adapun keenam bait dari mantram puja Tri Sandhya ini, adalah :
  1. Om, Om
Om Bhur Bhuwah Swah,
Tat Sawitur Warenyam,
Bhargo Dewasya Dhimahi,
Dhiyo Yo Nah Prachodayat,
Artinya:
Ya Hyang Widhi yang menguasai ketiga dunia ini, yang maha suci dan sumber segala kehidupan, sumber segala cahaya, semoga limpahkan pada budi nurani kami penerangan sinar cahayaMu yang maha suci.

  1. Om Narayanad Ewedam Sarwam,
Yad Bhutam Yasca Bhawyam,
Niskalo Nirlano Nirwikalpo,
Nlraksatah Suddho Dewo Eko,          
Narayana Nadwityo Asti Kascit.
Artinya:
Ya Hyang Widhi, darimulah segala yang sudah ada dan yang akan ada di alam ini berasal dan kembali nantinya. Engkau adaIah gaib, tiada berwujud, di atas segala kebingungan,tak termusnahkan. Engkau adalah maha cemerlang, maha suci, maha esa dan tiada duanya.

  1. Om Twam Siwah Twam Mahadewah,
Iswarah Parameswara,
Brahma Wisnusca Rudrasca,
Purusah Parikirtitah,
Artinya:
Engkau disebut Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma dan Wisnu dan juga Rudra. Engkau adalah asal mula dari segala yang ada.

  1. Om Papo’ham Papakarmaham ,
Papatma Papasambhawah,
Trahi Mam Pundarikaksah,
Sabahyabhyantara Sucih.
Artinya:
Oh Hyang Widhi Wasa, hamba ini papa, jiwa hamba papa dan kelahiran hambapun papa, perbuatan hamba papa, Ya Hyang Widhi, selamatkanlah hamba dari segala kenistaan ini, dapatlah disucikan lahir dan batin hamba.

  1. Om Ksama Swamam Mahadewa,
Sarwaprani Hitangkarah,
Mam Mocca Sarwapapebhyah,
Palayaswa Sadasiwa.   
Artinya:
Ampunilah hamba. oh Hyang Widhi, penyelamat segala makhluk. Lepaskanlah , kiranya hamba dari segala kepapaan ini dan tuntunlah hamba, selamatkan dan lindungilah hamba oh Hyang Widhi Wasa.

  1. Om Ksantawya Kayika Dosah.
Ksantawyo Wacika Mama,
Ksantawya Manasa Dosah,
Tat Pramadat Ksamaswa Mam.
Artinya:
Oh Hyang Widhi Wasa, ampunilah segala dosa hamba, ampunilah dosa dari ucapan hamba dan
ampunilah pula dosa dari pikiran hamba. Ampunilah hamba atas segaIa kelalaian hamba itu.

Om Santi, Santi, Santi Om
Artinya:
Semoga damai dihati, damai didunia, damai selalu.
Pengkajian :
Mantra puja Tri Sandya merupakan intisari dari seluruh mantra-mantra suci Weda. Hal ini dikarenakan mantra Puja Tri Sandhya telah mencakup segala jenis aspek dan pujian kepada Brahman atau Ida Sang Hyang Widi Wasa. Adapun diantaranya :
1.      Melakukan Puja Tri Sandhya berarti kita telah melakukan Japa, karena kita telah mengucapkan mantra suci “OM”dalam setiap baitnya yang berarti kita telah menyebut aksara suci Tuhan secara berulang. Dimana kata “Om” memiliki arti Brahman.
2.      Dengan melakukan Puja Tri Sandhya berarti kita telah mengakui dan memuji keagungan Tuhan dalam bentuk pengucapan mantram Gayatri yang terletak pada bait pertama.
3.      Dengan melakukan Puja Tri Sandhya berarti kita telah mengakui Tuhan hanya satu dan merupakan sumber dari segalanya dan beliau disebut Narayana, yang tercantum pada bait kedua.
4.      Dengan melakukan Puja Tri Sandhya berarti kita telah mengakui bahwa Tuhan itu Maha Kuasa dan memiliki banyak manifestasi atau nama (visvarupam) yang tercantum pada bait ketiga.
5.      Dengan melakukan Puja Tri Sandhya kita telah mengakui kesalahan dan dosa yang telah kita perbuat. Sehingga pada bait keempat ini kita memohon perlindungan diri kepada Tuhan dan memohon kesucian jiwa dan raga.
6.      Dengan melakukan Puja Tri Sandhya berarti kita telah memohon pengampunan dosa kepada Tuhan. Dalam bait kelima ini kita telah mengakui bahwa Tuhan adalah Maha Pelindung dan Penyelamat yang akan mengampuni seluruh dosa dalam wujud Beliau sebagai Sada Siwa.
7.      Bait ketujuh yaitu memohon pengampunan dosa kepada Tuhan.
Mengenai konsep Penyatuan Siwa Siddhanta, lebih ditonjolkan pada bait ke 4 yang menyatakan berbagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi Wasa itu menandakan bahwa banyak adanya sekte-sekte yaitu salah satunya Waisnawa dan Siwa Siddhanta. Kemudian menyatakan Ista Dewata, adalah Bhatara Siwa yang aktif sebagai sada siwa, sedangkan Bhatara Siwa senagai Parama Siwa bersifat tidak aktif atau sering disebut SUNIA (tanpa sifat, masih murni atau Nirguna Brahman.
Siwa tatwa ngaranya sukha tanpa wali dukha
Sadasiwa tatwa ngaranya tanpa wit tanpa tungtung ikang sukha
Paramasiwa tatwa ngaranya niskala tan wenang wiswatwan ikang sukha
(Wrespati Tattwa, 50)
Terjemahan :
Hakikat memuja Tuhan Siwa untuk mencapai kebahagiaan yang tidak berbalik pada kedukaan.
Memuja Tuhan sebagai Sadasiwa akan mencapai kebahagiaan yang tidak ada awal dan tidak ada akhirnya.
Memuja Tuhan sebagai Paramasiwa mencapai kebahagiaan niskala yang tidak dapat dilukiskan kebahagiaan itu.

2.            Mantram Puja Kramaning Sembah
Adapun mantram dari Puja Kramaning Sembah, yaitu :
1.            Sembah pertama ini adalah sembah puyung.

Om àtmà tattwàtmà sùddha màm swàha

Artinya: Ya Tuhan, atma atau jiwa dan kebenaran, bersihkanlah hamba.
2.            Ditujukan kepada Hyang Widhi dalam wujudNya sebagai Hyang Surya atau Siwa Aditya.
Om Adityasyà param jyoti

rakta tejo namo’stute

sweta pankaja madhyastha
 
bhàskaràya namo’stute

Artinya: Ya Tuhan, Sinar Hyang Surya Yang Maha Hebat. Engkau bersinar merah, hamba memuja Engkau. Hyang Surya yang berstana di tengah-tengah teratai putih. Hamba memuja Engkau yang menciptakan sinar matahari berkilauan.
3.            Mantram ini ditujukan kepada Istadewata pada hari dan tempat persembahyangan itu. Istadewata ini adalah Dewata yang diinginkan kehadiranNya pada waktu memuja. Istadewata adalah perwujudan Tuhan Yang Maha Esa dalam berbagai wujudNya.
Om nama dewa adhisthanàya

sarwa wyapi wai siwàya

padmàsana eka pratisthàya

ardhanareswaryai namo namah

Artinya: Ya Tuhan, kepada dewata yang bersemayam pada tempat yang luhur, kepada Hyang Siwa yang berada di mana-mana, kepada dewata yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai di suatu tempat, kepada Ardhanaresvari hamba memuja.

4.            Mantram ini adalah untuk memohon wara nugraha.
Om anugraha manoharam

dewa dattà nugrahaka

arcanam sarwà pùjanam

namah sarwà nugrahaka

Dewa-dewi mahàsiddhi

yajñanya nirmalàtmaka

laksmi siddhisca dirghàyuh

nirwighna sukha wrddisca

Artinya: Ya Tuhan, Engkau yang menarik hati pemberi anugrah, anugrah pemberian Dewata, pujaan segala pujaan, hamba memujaMu sebagai pemberi segala anugrah. Kemahasiddhian pada Dewa dan Dewi berwujud jadnya suci. kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan rohani dan jasmani.

5.            Mantram terakhir, adalah sembah puyung.
Om Dewa suksma paramà cintyàya nama swàha.
Om Sàntih, Sàntih, Sàntih, Om

Artinya: Ya Tuhan, hamba memuja Engkau Dewata yang tidak terpikirkan, maha tinggi dan maha gaib. Ya Tuhan, anugerahkan kepada hamba kedamaian, damai, damai, Ya Tuhan.

 Pengkajian :
Pada mantram Puja Kramaning Sembah, kesemua dari mantram tersebut diawali dengan mantram Om”, yang merupakan aksara suci Tuhan. Kemudian ketika pemujaan kepada Surya, berarti menuju kepada Sekte Sora yang mengagungkan Dewa Surya sebagai Dewa yang tertinggi. Selain itu penyebutan ini juga bisa disebutkan kepada Siwa Raditya yang merupakan penyebutan dari Dewa Siwa. Sehingga termasuk ke dalam sekte Siwa Siddhanta juga. Mantram selanjutnya menyatakan adanya konsep Ista Dewata, yang merupakan manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi dengan segala bentuk penyifatan disegala penjuru arah. Kemudian mantram terakhir, menyatakan Tuhan sebagai Acintya yaitu tak terpikirkan. Tuhan dalam keadaan Nirguna Brahman. Kemudian mantram keempat, yaitu nunas panugrahan merupakan mantram yang mengacu pada sekte Waisnawa. Karena beliau yang wujudnya sebagai Dewa Wisnu sebagai pemelihara yang memberikan panugrahan kepada umatnya. Dewa Wisnu tiada lain adalah Ida Sang Hyang Widi itu sendiri.


TUGAS KEDUA
MANTRAM SEHARI – HARI

1.            Mantram Pembersihan Tangan
Om Ang Argha Dwaya Ya Namah Swaha
Artinya : Om Hyang Widhi, Semoga kedua tangan hamba menjadi bersih.
2.            Mantram Pembersihan Mulut
Om Waktra Parisudha Ya Namah Swaha
Artinya : Om Hyang Widhi, semoga mulut hamba bersih
3.            Mantram Menyucikan Bunga
Om Puspadanta Ya Namah
Artinya : Ya, Tuhan sucikanlah bunga ini
4.            Mantram Untuk Dupa
Om Ang Dupa Dipastra Ya Namah
Artinya : Ya, Tuhan sucikanlah bunga ini.
5.            Mantram Duduk
Om Prasada Sthiti Carira Ciwa Suci Nirmala Ya Namah Svaha
Artinya : Ya, Tuhan dalam wujud Ciwa, suci tak ternoda, hormat hamba, hamba telah duduk dengan tenang.
6.            Mantram Membersihkan Kaki
Om Am Kham Kasodhaya Iswara Ya Namah Swaha
Artinya : Om Hyang Widhi, semoga kaki hamba bersih.

Pengkajian :
Dalam mantram-mantram tersebut, bila dikaji dari pengertian atau arti mantram itu sendiri lebih banyak menyebutkan “Hyang Widhi” sehingga konsep penyatuannya sudah mengarah pada konsep penyatuan sekte-sekte yang ada karena Hyang Widhi Tunggal adanya, akan tetapi disebut dengan banyak nama oleh orang bijaksana. Kemudian dalam setiap diawal mantram ada “Om”, yang merupakan aksara suci dari Tuhan sehingga hal itu juga menuju kepada Tuhan itu sendiri. Ajaran Siwa Siddhanta di Bali terdiri dari tiga kerangka utama, yaitu Tatwa, Susila dan Upacara. Tattwa atau filosofi yang mendasari ajaran Siwa adalah ajaran Siwa Tattwa. Didalam Siwa Tattwa, Sang Hyang WIdhi adalah Ida Bhatara Siwa. Dalam Lontar Jnana Siddhanta dinyatakan bahwa Ida Bhatara Ciwa adalah Esa yang bermanifestasi beraneka menjadi bhatara bhatari.
Dalam mantram duduk menyebutkan nama “Ciwa” yang dikatakan suci tak ternoda itu menandakan bahwa pada mantra mini terdapat pula Konsep Siwa Siddhanta. Sehingga sebagai kesimpulannya semua mntram tersebut sudah terdapat konsep-konsep Penyatuan Siwa Siddhanta. Semua Bhatara Bhatari adalah manifestasi dari Ida Bhatara Siwa, ialah beliau berada dimana-mana, diseluruh penjuru mata angin dan pangider-ider.

TUGAS KETIGA

1.            Mantram Saraswati
Om Brahma Putri Mahadewi
Brahmanya Brahma Wandhini
Sarawati Sayajanam
Prajanaya Saraswati
Om, Sarawati dipata ya namah

Artinya : Ya Tuhan, sakti-Mu selaku Maha Dewi dari Brahma, pancaran Pradana dari Brahma, Saraswati dewi kemampuan berpikir, Saraswati yang tak ada tara kebijaksanaanNya, Ya Dewi Saraswati, hamba menyembah padamu.

Pengkajian :
Bila di lihat dari mantram Saraswati tersebut, dapat disimpulkan bahwa mantram ini termasuk ke dalam sekte Sakta. Karena Saraswati merupakan sakti dari Dewa Brahma. Mengenai sekte Sakta ini merupakan sekte yang memuja dewa dan dewi dan salah satunya adalah Dewi Saraswati. Saraswati merupakan dewi ilmu pengetahuan. Bila dikaji dari namanya Saraswati yang artinya mengalir menyatakan bahwa ilmu pengetahuan itu mengalir adanya. Selain itu, juga diawal mantram adanya aksara suci Tuhan yaitu “Om”.

2.            Mantram Tumpek Landep
Adapun mantram dari Tumpek Landep ini adalah mantram pasupati, yaitu :
Om Sanghyang Pasupati Ang-Ung Mang ya namah svaha
Om Brahma astra pasupati, Visnu astra pasupati, Siva astra pasupati, Om ya namah svaha
Om Sanghyang Surya Chandra tumurun maring Sanghyang Aji Sarasvati-tumurun maring Sanghyang Gana, angawe pasupati maha sakti, angawe pasupati maha siddhi, angawe pasupati maha suci, angawe pangurip maha sakti, angawe pangurip maha siddhi, angawe pangurip maha suci, angurip sahananing raja karya teka urip, teka urip, teka urip.
Om Sanghyang Akasa Pertivi pasupati, angurip……..
Om eka vastu avighnam svaha
Om Sang-Bang-Tang-Ang-Ing-Nang-Mang-Sing-Wang-Yang-Ang-Ung-Mang
Om Brahma pasupati
Om Visnu Pasupati
Om Siva sampurna ya namah svaha
Pengkajian :
Mantra di atas bersumber dari lontar Sulayang Gni Pura Luhur Lempuyang Hari suci Tumpek Landep merupakan hari Rerahinan gumi dimana umat Hindu bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi  yang telah memberikan kecerdasan, pikiran tajam serta kemampuan yang tinggi kepada umat manusia (Viveka dan Vinaya), sehingga mampu menciptakan berbagai benda yang dapat memudahkan hidup termasuk teknologi. Mesti disadari, dalam konteks itu umat bukanlah memuja benda-benda tersebut, tetapi memuja kebesaran Tuhan.
Tumpek  Landep merupakan salah satu hari suci  dalam agama Hindu, yang masih berhubungan  dengan hari turunnya ilmu pengetahuan, yakni hari raya Saraswati. Setelah manusia mendapatkan ilmu pada hari Saraswati, kita juga  harus mengasah pikiran itu seruncing-runcingnya untuk bisa memberi manfaat dalam kehidupan. Dalam  perayaan Tumpek Landep masyarakat secara simbolis melakukan upacara untuk berbagai macam senjata, keris, TV, radio, pisau, tombak dan senapan.
Sumber lain mengatakan dalam ritual Tumpek Landep ada ungkapan landeping idep (pikiran), landeping wak (perkataan) dan landeping laksana (perbuatan). Hal itu mengandung makna bahwa pikiran, perkataan dan perbuatan mesti ‘ditajamkan’ ke arah kemajuan yang bermanfaat besar untuk kepentingan manusia.
Tumpek Landep merupakan piodalan untuk memuja Hyang Pasupati manifestasi Tuhan yang memberi anugerah kehidupan kepada makhluk hidup dan senjata kehidupan manusia. Karena itu pada saat Tumpek Landep, senjata yang runcing atau tajam seperti keris diupacarai sebagai rasa bakti umat kepada Tuhan yang telah menganugerahkan senjata atau peralatan yang memudahkan kehidupan manusia. Belakangan, tak hanya keris, peralatan manusia seperti kendaraan juga diupacarai.
Sebagai kesimpulannya, mantram pasupati dari Tumpek Landep ini termasuk kedalam sekte Siwa Siddhanta, dilihat dari Sang Hyang Pasupati yang merupakan nama lain dari Dewa Siwa. Kemudian, juga ada penyebutan kepada Dewa Wisnu sehingga juga ada pengaruh dari sekte Waisnawa.

TUGAS KEEMPAT
MANTRAM PAGERWESI
1.                  Pengertian Hari Raya Pagerwesi
Kata "pagerwesi" artinya pagar dari besi. Ini me-lambangkan suatu perlindungan yang kuat. Segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang bernilai tinggi agar jangan mendapat gangguan atau dirusak. Hari Raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak. Nama Tuhan yang dipuja pada hari raya ini adalah Sanghyang Pramesti Guru.
Sanghyang Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melebur segala hal yang buruk. Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Pramesti Guru, beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia. Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun, sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur.
2.                  Mantram Hari Raya Pagerwesi
Mantra adalah kata suci atau bertuah yang dapat memberi pengaruh atau getaran yang bersifat magis, apabila disebutkan maupun dijapakan, baik secara ingatan (mansika), berbisik (upamsu), maupun dengan ucapan (wacika).
Mantra merupakan unsur terpenting dalam agama Hindu, karena setiap ada upacara keagamaan maupun sembahyang pasti akan terdengar mantra. Oleh karena mantra tersebut sangat diyakini mengandung kekuatan suci dan gaib. Kata mantra berasal dari kata “man” dan “yantra”, yang artinya alat untuk melindungi pikiran. Pengucapan mantra bertujuan untuk melindungi pikiran dari berbagai macam godaan, sehingga dapat memikirkan hal-hal yang bermanfaat dan senantiasa berjalan pada dharma dalam rangka mendapatkan pencerahan spiritual. (Mpu Daksa Yaska,2011: 237-238). Seperti halnya, mantram yang diucapkan pada hari raya Pagerwesi.
Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta. Dalam lontar Sundarigama disebutkan:
"Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh, wenang Sang Purohita ngarcana paduka Bhatara Prameswara, Widhiwidanania:
Daksina, suci 1, pras penyeneng, sesayut Pancalingga, penek ajuman, saha raka, wangi-wangi saruntutannia, haturakna ring sanggar Kamulan. Kunang ring sira wwang :
Sesayut pageh hurip, 1 pryascita tengah wengi, pasang yoga Samadhi ta. Mwah hana labha ring Panca Mahabutha :
Segehan warna, anut huriping Pancadesa, ring natar Sanggah, mwah segehan Agung 1”

(Sundarigama)
Terjemahan:
Pada hari Budha Kliwon (Sinta), disebut Pagerwesi, saat Sanghyang Pramesti Guru (Ciwa) dan diikuti oleh Dewata Nawasanga, yang bertujuan untuk menyelamatkan jiwa segala mahluk hidup yang ditakdirkanNya dialam ini semuanya, karena patutlah para Sulinggih memuja ciptaan Bhatara Prameswara. Upakaranya ialah :
Daksina, suci 1, peras penyeneng, sesayut pancalingga, penek ajuman, serta raka-raka, wangi-wangi, dan perlengkapannya, yang dihaturkan (disuguhkan) di Sanggah Kemulan.
Adapun bebanten bagi orang-orang ialah :
Sesayut pageh hurip 1, serta prayascita, setelah tengah malam, dilakukan yoga semadi (renungan suci).
Dan ada pula suguhan kepada Panca Maha Butha (lima unsur alam), yaitu Segehan berwarna, sesuai dengan neptu kelima arah (arah penjuru mata angin), dan diselenggarakan di natar sanggah, dan disertai dengan segehan agung 1 (sebuah).
Kemudian adapun mantra yang dipergunakan saat Hari Raya Pagerwesi adalah
“Om Giripati maha wiryam, Mahadewapratista, lingam, sarwa Dewa Pranayanam. Sarwa Jagat Pratisnam. Om Giripati dipata ya namah”
Terjemahan :
Ya Tuhan, bergelar Giripati yang Maha Agung, Mahadewa dengan lingga yang mantap, semua Dewa sembah padaMu
Om Giripati, hamba memujaMu.

Dilihat dari Lontar Sundarigama, menyebutkan bahwa hari raya pagerwesi adalah beryoganya Sang Hyang Siwa, kemudian tentang upakara, serta bebanten bagi orang-orang. Kemudian juga dalam mantram yang diucapkan pada hari raya Pagerwesi menyebutkan kata lingga yang merupakan lambang Dewa Siwa.  Lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti, keterangan, petunjuk, lambang kemaluan laki-laki terutama lingga Siwa dalam bentuk tiang batu, Patung Dewa, titik tuju pemujaan, titik pusat, pusat, poros, sumbu (Zoetmulder, 2000 601). Sehingga bila dikaitkan mantram ini mengandung sekte Siva Siddhanta, karena Siwa dianggap  Dewa tertinggi yang  disebut Sanghyang Pramesti Guru yang diikuti oleh Dewata Nawasanga dan beryoga dengan lingga yang mantap.
3.                  Makna Filosofi
Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama, Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati.
Mengadakan yoga berarti Tuhan menciptakan diri-Nya sebagai guru. Barang siapa menyucikan dirinya akan dapat mencapai kekuatan yoga dari Hyang Pramesti Guru. Kekuatan itulah yang akan dipakai memagari diri. Pagar yang paling kuat untuk melindungi diri kita adalah ilmu yang berasal dari guru sejati pula. Guru yang sejati adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat megisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.
Pada hari raya Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati . Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan "pager besi" untuk melindungi hidup kita di dunia ini. Di samping itu Sang Hyang Pramesti Guru beryoga bersama Dewata Nawa Sanga adalah untuk "ngawerdhiaken sarwa tumitah muang sarwa tumuwuh."
Ngawerdhiaken artinya mengembangkan. Tumitah artinya yang ditakdirkan atau yang terlahirkan. Tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan. Mengembangkan hidup dan tumbuh-tumbuhan perlulah kita berguru agar ada keseimbangan.
Dalam Bhagavadgita disebutkan ada tiga sumber kemakmuran yaitu:
a.       Krsi yang artinya pertanian (sarwa tumuwuh).
b.      Goraksya, artinya peternakan atau memelihara sapi sebagai induk semua hewan.
c.       Wanijyam, artinya perdagangan. Berdagang adalah suatu pengabdian kepada produsen dan konsumen. Keuntungan yang benar, berdasarkan dharma apabila produsen dan konsumen diuntungkan. Kalau ada pihak yang dirugikan, itu berarti ada kecurangan. Keuntungan yang didapat dari kecurangan jelas tidak dikehendaki dharma.
Kehidupan tidak terpagari apabila tidak berkembangnya sarwa tumitah dan sarwa tumuwuh. Moral manusia akan ambruk apabila manusia dilanda kemiskinan baik miskin moral maupun miskin material. Hari raya Pagerwesi adalah hari untuk mengingatkan kita untuk berlindung dan berbakti kepada Tuhan sebagai guru sejati. Berlindung dan berbakti adalah salah satu ciri manusia bermoral tanpa kesombongan.
Mengembangkan pertanian dan peternakan bertujuan untuk memagari manusia dari kemiskinan material. Karena itu tepatlah bila hari raya Pagerwesi dipandang sebagai hari untuk memerangi diri dengan kekuatan meterial. Kalau kedua hal itu (pertanian dan peternakan) kuat, maka adharma tidak dapat masuk menguasai manusia. Yang menarik untuk dipahami adalah Pagerwesi adalah hari raya yang lebih diperuntukkan para pendeta (sang purohita). Hal ini dapat dipahami, karena untuk menjangkau vibrasi yoga Sanghyang Pramesti Guru tidaklah mudah. Hanya orang tertentu yang dapat menjangkau vibrasi Sanghyang Pramesti Guru. Karena itu ditekankan pada pendeta dan beliaulah yang akan melanjutkan pada masyarakat umum. Dalam agama Hindu, purohita adalah adi guru loka yaitu guru utama dari masyarakat. Sang Purohita-lah yang lebih mampu menggerakkan atma dengan tapa brata.  
Bila dikaitkan dengan Siwa Siddhanta, Hari Raya Pagerwesi adalah memuja Sang Hyang Pramesti Guru yaitu Dewa Siwa. Sehingga sektenya adalah Siwa Siddhanta. Karena memuja Dewa Siwa pada Hari Raya ini.



MANTRAM HARI RAYA PAGERWESI


MANTRAM HARI RAYA PAGERWESI

1.    Pengertian Hari Raya Pagerwesi
Kata "pagerwesi" artinya pagar dari besi. Ini me-lambangkan suatu perlindungan yang kuat. Segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang bernilai tinggi agar jangan mendapat gangguan atau dirusak. Hari Raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak. Nama Tuhan yang dipuja pada hari raya ini adalah Sanghyang Pramesti Guru.
Sanghyang Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melebur segala hal yang buruk. Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Pramesti Guru, beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia. Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun, sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur.
2.    Mantram Hari Raya Pagerwesi
Mantra adalah kata suci atau bertuah yang dapat memberi pengaruh atau getaran yang bersifat magis, apabila disebutkan maupun dijapakan, baik secara ingatan (mansika), berbisik (upamsu), maupun dengan ucapan (wacika).
Mantra merupakan unsur terpenting dalam agama Hindu, karena setiap ada upacara keagamaan maupun sembahyang pasti akan terdengar mantra. Oleh karena mantra tersebut sangat diyakini mengandung kekuatan suci dan gaib. Kata mantra berasal dari kata “man” dan “yantra”, yang artinya alat untuk melindungi pikiran. Pengucapan mantra bertujuan untuk melindungi pikiran dari berbagai macam godaan, sehingga dapat memikirkan hal-hal yang bermanfaat dan senantiasa berjalan pada dharma dalam rangka mendapatkan pencerahan spiritual. (Mpu Daksa Yaska,2011: 237-238). Seperti halnya, mantram yang diucapkan pada hari raya Pagerwesi.
Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta. Dalam lontar Sundarigama disebutkan:
"Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh, wenang Sang Purohita ngarcana paduka Bhatara Prameswara, Widhiwidanania:
Daksina, suci 1, pras penyeneng, sesayut Pancalingga, penek ajuman, saha raka, wangi-wangi saruntutannia, haturakna ring sanggar Kamulan. Kunang ring sira wwang :
Sesayut pageh hurip, 1 pryascita tengah wengi, pasang yoga Samadhi ta. Mwah hana labha ring Panca Mahabutha :
Segehan warna, anut huriping Pancadesa, ring natar Sanggah, mwah segehan Agung 1”

(Sundarigama)
Terjemahan:
Pada hari Budha Kliwon (Sinta), disebut Pagerwesi, saat Sanghyang Pramesti Guru (Ciwa) dan diikuti oleh Dewata Nawasanga, yang bertujuan untuk menyelamatkan jiwa segala mahluk hidup yang ditakdirkanNya dialam ini semuanya, karena patutlah para Sulinggih memuja ciptaan Bhatara Prameswara. Upakaranya ialah :
Daksina, suci 1, peras penyeneng, sesayut pancalingga, penek ajuman, serta raka-raka, wangi-wangi, dan perlengkapannya, yang dihaturkan (disuguhkan) di Sanggah Kemulan.
Adapun bebanten bagi orang-orang ialah :
Sesayut pageh hurip 1, serta prayascita, setelah tengah malam, dilakukan yoga semadi (renungan suci).
Dan ada pula suguhan kepada Panca Maha Butha (lima unsur alam), yaitu Segehan berwarna, sesuai dengan neptu kelima arah (arah penjuru mata angin), dan diselenggarakan di natar sanggah, dan disertai dengan segehan agung 1 (sebuah).
Kemudian adapun mantra yang dipergunakan saat Hari Raya Pagerwesi adalah
“Om Giripati maha wiryam, Mahadewapratista, lingam, sarwa Dewa Pranayanam. Sarwa Jagat Pratisnam. Om Giripati dipata ya namah”
Terjemahan :
Ya Tuhan, bergelar Giripati yang Maha Agung, Mahadewa dengan lingga yang mantap, semua Dewa sembah padaMu
Om Giripati, hamba memujaMu.

Dilihat dari Lontar Sundarigama, menyebutkan bahwa hari raya pagerwesi adalah beryoganya Sang Hyang Siwa, kemudian tentang upakara, serta bebanten bagi orang-orang. Kemudian juga dalam mantram yang diucapkan pada hari raya Pagerwesi menyebutkan kata lingga yang merupakan lambang Dewa Siwa.  Lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti, keterangan, petunjuk, lambang kemaluan laki-laki terutama lingga Siwa dalam bentuk tiang batu, Patung Dewa, titik tuju pemujaan, titik pusat, pusat, poros, sumbu (Zoetmulder, 2000 601). Sehingga bila dikaitkan mantram ini mengandung sekte Siva Siddhanta, karena Siwa dianggap  Dewa tertinggi yang  disebut Sanghyang Pramesti Guru yang diikuti oleh Dewata Nawasanga dan beryoga dengan lingga yang mantap.
3.    Makna Filosofi
Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama, Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati.
Mengadakan yoga berarti Tuhan menciptakan diri-Nya sebagai guru. Barang siapa menyucikan dirinya akan dapat mencapai kekuatan yoga dari Hyang Pramesti Guru. Kekuatan itulah yang akan dipakai memagari diri. Pagar yang paling kuat untuk melindungi diri kita adalah ilmu yang berasal dari guru sejati pula. Guru yang sejati adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat megisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.
Pada hari raya Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati . Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan "pager besi" untuk melindungi hidup kita di dunia ini. Di samping itu Sang Hyang Pramesti Guru beryoga bersama Dewata Nawa Sanga adalah untuk "ngawerdhiaken sarwa tumitah muang sarwa tumuwuh."
Ngawerdhiaken artinya mengembangkan. Tumitah artinya yang ditakdirkan atau yang terlahirkan. Tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan. Mengembangkan hidup dan tumbuh-tumbuhan perlulah kita berguru agar ada keseimbangan.
Dalam Bhagavadgita disebutkan ada tiga sumber kemakmuran yaitu:
a.    Krsi yang artinya pertanian (sarwa tumuwuh).
b.    Goraksya, artinya peternakan atau memelihara sapi sebagai induk semua hewan.
c.    Wanijyam, artinya perdagangan. Berdagang adalah suatu pengabdian kepada produsen dan konsumen. Keuntungan yang benar, berdasarkan dharma apabila produsen dan konsumen diuntungkan. Kalau ada pihak yang dirugikan, itu berarti ada kecurangan. Keuntungan yang didapat dari kecurangan jelas tidak dikehendaki dharma.
Kehidupan tidak terpagari apabila tidak berkembangnya sarwa tumitah dan sarwa tumuwuh. Moral manusia akan ambruk apabila manusia dilanda kemiskinan baik miskin moral maupun miskin material. Hari raya Pagerwesi adalah hari untuk mengingatkan kita untuk berlindung dan berbakti kepada Tuhan sebagai guru sejati. Berlindung dan berbakti adalah salah satu ciri manusia bermoral tanpa kesombongan.
Mengembangkan pertanian dan peternakan bertujuan untuk memagari manusia dari kemiskinan material. Karena itu tepatlah bila hari raya Pagerwesi dipandang sebagai hari untuk memerangi diri dengan kekuatan meterial. Kalau kedua hal itu (pertanian dan peternakan) kuat, maka adharma tidak dapat masuk menguasai manusia. Yang menarik untuk dipahami adalah Pagerwesi adalah hari raya yang lebih diperuntukkan para pendeta (sang purohita). Hal ini dapat dipahami, karena untuk menjangkau vibrasi yoga Sanghyang Pramesti Guru tidaklah mudah. Hanya orang tertentu yang dapat menjangkau vibrasi Sanghyang Pramesti Guru. Karena itu ditekankan pada pendeta dan beliaulah yang akan melanjutkan pada masyarakat umum. Dalam agama Hindu, purohita adalah adi guru loka yaitu guru utama dari masyarakat. Sang Purohita-lah yang lebih mampu menggerakkan atma dengan tapa brata. 
Bila dikaitkan dengan Siwa Siddhanta, Hari Raya Pagerwesi adalah memuja Sang Hyang Pramesti Guru yaitu Dewa Siwa. Sehingga sektenya adalah Siwa Siddhanta. Karena memuja Dewa Siwa pada Hari Raya ini.

SIVA SIDDHANTA II EKSISTENSI KONSEP PENYATUAN SIWA SIDDHANTA DI PAMERAJAN PASEK GELGEL BANJAR DINAS LABAK, DESA ANTURAN, KECAMATAN BULELENG, KABUPATEN BULELENG

SIVA SIDDHANTA II
EKSISTENSI KONSEP PENYATUAN SIWA SIDDHANTA
DI PAMERAJAN PASEK GELGEL BANJAR DINAS LABAK,
DESA ANTURAN, KECAMATAN BULELENG,
  KABUPATEN BULELENG





Oleh :
Nama    : Luh Widastri
NIM    : 10.1.1.1.1. 3820
Kelas    : PAH A / Semester V


Jurusan Pendidikan Agama Hindu
Fakultas Dharma Acarya
Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
2012




I.    PENDAHULUAN
Pura adalah istilah untuk tempat sembahyang agama Hindu di Indonesia. Pura di Indonesia terutama terkonsentrasi di Bali sebagai pulau yang mempunyai mayoritas penduduk penganut agama Hindu. Kata "Pura" sesungguhnya berasal dari akhiran bahasa Sanskerta (-pur, -puri, -pura, -puram, -pore), yang artinya adalah kota, kota berbenteng, atau kota dengan menara atau istana. Dalam perkembangan pemakaiannya di Pulau Bali, istilah "Pura" menjadi khusus untuk tempat ibadah; sedangkan istilah "Puri" menjadi khusus untuk tempat tinggal para raja dan bangsawan.
Tidak seperti candi atau kuil Hindu di India yang berupa bangunan tertutup, pura dirancang sebagai tempat sembahyang di udara terbuka yang terdiri dari beberapa lingkungan yang dikelilingi tembok. Masing-masing lingkungan ini dihubungkan dengan gerbang atau gapura yang penuh berukiran indah. Lingkungan yang dikelilingi tembok ini memuat beberapa bangunan seperti pelinggih yaitu tempat suci bersemayam hyang, meru yaitu menara dengan atap bersusun, serta bale (pendopo atau paviliun). Struktur tempat suci pura mengikuti konsep Trimandala, yang memiliki tingkatan pada derajat kesuciannya, yakni:
1.    Nista mandala (Jaba pisan): zona terluar yang merupakan pintu masuk pura dari lingkungan luar. Pada zona ini biasanya berupa lapangan atau taman yang dapat digunakan untuk kegiatan pementasan tari atau tempat persiapan dalam melakukan berbagai upacara keagamaan.
2.    Madya mandala (Jaba tengah): zona tengah tempat aktivitas umat dan fasilitas pendukung. Pada zona ini biasanya terdapat Bale Kulkul, Bale Gong (Bale gamelan), Wantilan (Bale pertemuan), Bale Pesandekan, dan Perantenan.
3.    Utama mandala (Jero): yang merupakan zona paling suci di dalam pura. Di dalam zona tersuci ini terdapat Padmasana, Pelinggih Meru, Bale Piyasan, Bale Pepelik, Bale Panggungan, Bale Pawedan, Bale Murda, dan Gedong Penyimpenan.
Meskipun demikian tata letak untuk zona Nista mandala dan Madya mandala kadang tidak mutlak seperti demikian, karena beberapa bangunan seperti Bale Kulkul, atau Perantenan atau dapur pura dapat pula terletak di Nista mandala.
Pada aturan zona tata letak pura maupun puri (istana) di Bali, baik gerbang Candi bentar maupun Paduraksa merupakan satu kesatuan rancang arsitektur. Candi bentar merupakan gerbang untuk lingkungan terluar yang membatasi kawasan luar pura dengan Nista mandala zona terluar kompleks pura. Sedangkan gerbang Kori Agung atau Paduraksa digunakan sebagai gerbang di lingkungan dalam pura, dan digunakan untuk membatasi zona Madya mandala dengan Utama mandala sebagai kawasan tersuci pura Bali. Maka disimpulkan baik untuk kompleks pura maupun tempat tinggal bangsawan, candi bentar digunakan untuk lingkungan terluar, sedangkan paduraksa untuk lingkungan dalam.

II.    PEMBAHASAN
2.1.    Pamerajan
2.1.1.    Pengertian Pamerajan
Pamerajan sebagai istilah untuk menyebutkan tempat pemujaan keluarga adalah tergolong istilah dalam bahasa “singgih” atau bahasa Bali halus. Sedang dalam bahasa Bali “kapara” atau bahasa “lumrah” disebut “sanggah”. Pamerajan atau sanggah adalah tempat pemujaan untuk suatu keluarga. Pamerajan bukan merupakan tempat pemujaan umum yang berlaku bagi setiap umat Hindu. Pamerajan hanya tempat pemujaan untuk umat Hindu yang memiliki ikatan keluarga yang sama.
Pamerajan adalah “ulun Karang” atau kalau diumpamakan seperti manusia, pamerajan itu dapat diumpamakan sebagai kepala atau ulunya pekarangan. Pamerajan memiliki tingkatan-tingkatan menurut besar kecilnya keluarga penyungsung dan bentuk serta kelengkapan dari pelinggih-pelinggih yang ada.
Dalam lontar Siwagama ada disebutkan tingkatan-tingkatan pemujaan keluarga sebagai berikut :
Bhagawan Manohari, Siwapaksa sira, kenedwa kinon de sri-gondara-pati umarja nang sad kahyangan, manista madya motama, mamari wata swadharma ring wwang kabeh, lyan swadyaning wang saduluhing wang kawandasa kinon magawaya panti karma, wrwang satengah bhaga rwang puluhing saduluk, ibu wangunanika, nistha sapulihing saduluk, sanggar pratiwi wagunan ika, wwang kamulan pamanggalanya sowang.
(Siwagama)
Terjemahan :
Bhagawan Manohari beliau beraliran Siwa dengan tugas disuruh oleh Sri Gondarapati, memelihara dengan baik Sad Kahyangan kecil, sedang dan besar, sebagai kewajiban semua orang , dan lainnya lagi ialah asal penjelmaan seseorang. Setiap 40 pakarangan rumah disuruh mendirikan panti, adapun setengah bagian dari itu yakni 20 pakarangan rumah supaya mendirikan palinggih Ibu, kecilnya 10 pakarangan rumah palinggih Pratiwi supaya didirikan dan Kamulan palinggih pada masing-masing pakarangan rumah.

Berdasarkan keterangan Lontar Siwagama tersebut kalau kita sesuaikan dengan kenyataan dimasyarakat maka yang disebut Pamerajan atau Sanggah adalah tempat pemujaan yang letaknya di “hulu rumah pakarangan”, yang pelinggih pokoknya adalah Kemulan. Sedangkan pada tingkatan yang lebih tinggi dimana “Gedong Pratiwi” sebagai pelinggih utamanya sudah disebut dengan Pamerajan Agung, atau Sanggah Gede. Kalau Palinggih Ibu dan Panti sudah sering umat menyebutkannya Pura Ibu atau Pura Panti.

2.1.2.    Fungsi Pamerajan
Fungsi Pamerajan adalah untuk memuja roh suci leluhur atau atma yang telah disebut Dewa Pitara (Sidha Dewata). Sebagaimana telah kami sebutkan didepan, palinggih utama di Pamerajan adalah palinggih Kamulan. Dalam beberapa sumber pustaka disebutkan yang diistanakan di Kamulan adalah Sang Hyang Atma (roh suci). Yang diistanakan di Kamulan untuk dipuja bukanlah Dewa tetapi Pitara yang telah mencapai alam Dewa, oleh karena itu disebut Dewa Pitara. Fungsi Merajan Kemulan sebagai tempat Sang Hyang Atma disebutkan dalam beberapa lontar sebagai berikut :
Ngaranira ira sang Atma, ring Kamulan tengen Bapanta nga Sang Paratma ring Kamulan kiwa ibunta ngaran sang Siwatma, ring Kamulan madia raganta, atma dadi meme bapa ragane ring Kamulan madia raganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi Sang Hyang Tunggal nunggalang raga
Terjemahan :
Namanya beliau Sang Atma, pada Kamulan kanan sebagai Bapa adalah Paratma, pada Kamulan kiri sebagai ibu namanya Siwatma, pada Kamulan tengah wujudnya adalah sang atma, menjadi ibu bapa pada wujudnya Sang Hyang Tunggal mempersatukan diri.

Penjelasan yang hamper sama disebutkan pada Lontar Usana Dewa sebagai berikut :
Ring kamulan ngaran Ida Sang Hyang Atma, ring Kamulan tengen bapa ngaran Sang Paratma, ring Kamulan kiwa ibu ngaran Sang Siwatma, ring Kamulan Tengah ngaran raganya, tu Brahma dadi meme bapa maraga Sang Hyang Tuduh.
(Usana Dewa)
Terjemahan :
Pada Kamulan nama Beliau adalah Sang Hyang Atma, di Kamulan sebelah kanan adalah linggih Paratma adalah Bapak. Di Kamulan ruang sebelah kiri adalah linggih Siwatma adalah Ibu, di Kamulan tengah ada wujudnya Brahma menjadi Ibu Bapak yang berwujud Sang Hyang Tuduh.

Selanjutnya dapat pula kita tambahkan disini penjelasan Lontar Siwagama Sargah 10 yang berbunyi sebagai berikut :
“….kramania Sang Pitara mulihang batur Kamulanya nguni.
Terjemahan :
Kemudian Sang Pitara kembali pada tempat Kamulannya dulu.

Daripada penjelasan kutipan Lontar tersebut dapatlah disimpulkan bahwa yang disembah melalui tempat pemujaan Pamerajan Kamulan adalah Sang Hyang Atma yang telah mencapai alam ke Dewaan. Tujuan utama dari menstanakan roh suci leluhur di Kamulan adalah agar keturunan dapat menyembah roh suci leluhurnya. Karena amat besarlah pahala orang yang bhakti kepada leluhurnya. Kalau kurang bhakti pada leluhur apalagi tidak menstanakan di Kamulan maka kesengsaraan hiduplah yang akan dialami. Hal ini ditegaskan dalam Lontar Purwabhumi Kamulan, sebagai berikut :
Ring wus mangkana, ikang daksina pengadegan Sang Dewa Pitara tinuntunakena maring sanggah Kamulan, yan lanang unggahakena maring tengen, yan wadon unggahakena maring kiwa, irika mapisan lawan dewa hyangnya nguni, winastu jaya jaya de sang pandita kina bhaktyanana mwah dening swarganya mwang Santana nira. Telas mangkana, tutug saparikramanya, puja simpen praline kadi lagi. Ikang adegan wenang lakar sapokaranya wenang geseng akena juga, pushadika, winadahan nyuh gading saha kawangi pendem ring ulwaning sanggah kamulan saharamnya dening kidung kekawin sahawruhanira. Mangka kramanya benering kaprawrtinta marakrti ring kawitan, yan tan samangkana tan tututg ikang pali-pali sang dewa pitara,  maneher sira gawang tan molih unggwen tan ana pasenetanya, dadi kasambatsara santananya mwang wandu warganya, pada ya katepu tegah de sang guru pitaranya, ya dadi gering ambeda-beda tan manut tataning ashoda, metugering mangyat mangyut among panglaku, amungsangkrama, ayan, lwang mwang kena gering angrerepe edan-edanan, kena bayu sangkara, ogan tunggah, angliyep mwah kadikmeling kena sungsung baru satus akutus kwehnya sungsung hane ika pada tinahanan pwa dena sanggahinya kowos boros sakwehning raja drewenya henti tanpakrama, satata rumasa kurang ring pangan kinum, apan kerugan dening kala bhuta mwang dengen. Apan sang dewa pitaranya seaawase tan ane linggih, tan ana jeneknya dening santanya kurang tuna prakerti tuna pangweruh, tuna pangasa kewala wruh mangrasani wareg mwang lapa tan maphala prawrti ring raga sarira, tan pakrti ring kawitan.
(Purwabhumi Kamulan)
Terjemahan :
Setelah itu daksina pelinggih Sang Dewa Pitara itu diistanakan di Kamulan, kalau laki (roh suci) distanakan di ruang bagian kanan, kalau perempuan, distanakan di ruang kiri (dari Kamulan) disana bersatu dengan Dewahyangnya dulu, oleh Sang Pendeta diberikan puja jaya-jaya, hendaknya disembah oleh semua warga keturunannya. Setelah demikian selesai tatacaranya, dan barulah dilakukan praline dengan puja penyimpenan. Daksina palinggih itu boleh di “lukar” terus dibakar, abunya dimasukkan kedalam kelapa gading disertai dengan kewangen lalu ditanam di belakang Sanggah Kamulan dibarengi dengan kidung kekawin yang diketahui oleh keluarganya. Begitulah caranya suatu cara yang benar untuk berbhakti kepada leluhur. Kalau tidak seperti itu tidaklah selesai upacara untuk Dewa Pitara, sang Dewa Pitara akan berkeliaran tidak mendapat tempat, tidak ada tempatnya yang pasti, maka diumpatlah keturunan dan keluarganya, semuanya tertimpa penyakit disakiti oleh Dewapitaranya, itulah menyebabkan datang penyakit yang aneh-aneh tidak bisa diobati menurut ketentuan usada. Muncul penyakit ajaib, tingkah laku yang tidak patut, gila-gilaan, hati rusak, ogan, tunggah, ayan, bingung, sakit lemah, murung, sakit ingatan, sungsung baru dan juga menyebabkan boros kekayaannya habis tanpa sebab, selalu merasa kurang makan dan minum, sebab telah dirusak oleh bhuta kala karena selamanya Dewapitara tidak mempunyai tempat. Atau tempatnya tidak menentu, karena keturunannya, kurang bhakti, kurang pengetahuan, kurang perasaan, karena hanya tahu merasakan kenyang dan lapar, tidak berjasa pada diri sendiri dan tidak pula berbhakti kepada leluhur.

Dari penjelasan lontar Purwabhumi Kamulan ini, amat teranglah bahwa salah satu fungsi dari pada Merajan adalah sebagai tempat menstanakan roh suci leluhur (Dewa Pitara) yang dilakukan pada palinggih Kamulan. Tujuan dari pada “ngelinggihang” Dewa Pitara di Kamulan adalah agar dapat disembah oleh semua keluarga dan keturunannya sebagaimana ditegaskan dalam kalimat : “kinekbaktenadening sewarganya mwang stananya”. Makna dari menstanakan dan memuja leluhur di Kamulan adalah untuk mendapatkan ke”rahayu”an hidup. Menurut ajaran Agama Hindu leluhur yang tidak diistanakan dan tidak dipuja di tempat suci akan dapat menimbulkan bencana bagi kehidupan manusia di dunia.

2.2.    Sejarah Pamerajan Pasek Gelgel Banjar Dinas Labak Desa Anturan
Adapun sejarah dari pemerajan Pasek Gelgel ini menurut keterangan dari Ketut Gina yang merupakan mantan Kelian Sanggah sekitar tahun 1980- 2005, dan kini di gantikan oleh Wayan Tantra. Menurut keterangan Ketut Gina, sejarah sanggah pemerajan dulunya sudah ada sejak sekitar tahun 1800 yang berada di Banjar Dinas Anyar, lebih tepatnya areal perumahan leluhur kami terdahulu yang kini menjadi areal perumahan bagi kami satu lilitan. Dulunya, areal itu merupakan kawasan Selat Anturan. Setelah terjadi perkara, yaitu adanya oknum yang ingin memberikan batasan-batasan wilayah desa sehingga leluhur kami terdahulu sangat ketakutan jika pada akhirnya nanti areal dari sanggah pemerajan itu terkena batas-batas wilayah desa dan harus di hancurkan karena terkena garis wilayah desa. Sehingga, leluhur meminta bantuan kepada temannya dari Sukasada yang pada waktu itu memiliki kekuasaan atas persoalan tersebut. Pro kontrapun terjadi, sehingga terjadilah kesepakatan untuk memindahkan sanggah pemerajan ke Banjar Dinas Labak. Setelah beberapa lama, ternyata areal sanggah terdahulu tidak terkena batas wilayah Desa Selat. Tetapi karena sudah dipindahkan di Banjar Labak, maka ditetapkanlah disana sebagai kawasan Sanggah Pamerajan.
Karena dulunya pada jaman-jaman penjajahan, sering terjadi perang dan berbagai keributan bahkan bencana alam. Sanggah pamerajan tidaklah terurus dengan selayaknya. Pelinggih-pelinggih banyak yang hancur dan tidak terawat dengan baik. Pro kontra juga sempat terjadi diantara para keluarga sanggah pamerajan sehingga membuat sanggah pamerajan tidak diacuhkan oleh para penyungsung sanggah. Akan tetapi semenjak Ketut Gina menjadi Kelian Sanggah, pro kontra itu berhasil di selesaikan dengan jalan musyawarah dan akhirnya bisa dituntaskan 100 % permasalahan ini pada tahun 1995. Hal ini juga akibat wejangan-wejangan yang di berikan oleh beberapa leluhur. Sanggah Pamerajan pun kembali di pugar sedikit demi sedikit. Dulunya sanggah pamerajan ini, hanya memiliki beberapa sanggah pokok, salah satunya adalah Kamulan. Dulunya, Padmasana tidak ada, akan tetapi setelah di renovasi maka dibuatlah Padmasana. Pelinggih Hyang juga demikian, setelah di adakannya ngaben tunggalan sanggah yang pertama kali pada tahun 1995, barulah kembali membuat palinggih Hyang yang sekarang terletak di sebelah pojok utara.
Dulunya, sanggah kawitan atau pepantian berada di Alasangker. Sehingga di buatkanlah palinggih Siwa Dalem Kawitan di sanggah pamerajan untuk lebih memudahkan memohon kepada beliau. Akan tetapi para leluhur dulu sempat metuunang dalam istilah Balinya, dan didapatkanlah pencerahan bahwa seharusnya kawitan kita ada di daerah Banjar Tegal karena dulunya para leluhur terdahulu ada yang menyebar sampai kesana. Maka pindahlah sanggah kawitan di Banjar Tegal. Selang beberapa lama, pada tahun 1973 terjadi pro kontra di pepantian sehingga akibat rapat dari pengurus maka di sepakati untuk membuat kawitan sendiri di Anturan. Maka sejak tahun 1974 kawitan kami sekarang berada di Anturan tepatnya di banjar Labak dan di sungsung oleh 4 sanggah tunggalan dan tunggalan kami sebagai pokoknya yang telah memprakarsai pembuatan sanggah kawitan ini.
Renovasi atau mecikang palinggih ini kembali dilaksanakan oleh penyungsung pamerajan melalui kesepakatan bersama. Sehingga, pada tanggal 30 september 2012, pas Purnama Kapat. Palinggih di sanggah pamerajan ini di pelaspas. Untuk piodalan di Pamerajan ini yaitu pada Budawage Kelawu.
2.3.    Denah Pamerajan Pasek Gelgel Banjar Dinas Labak Desa Anturan





U











    Candi Bentar      Candi Kurung



         








Keterangan :
A.    Pelinggih Hyang
B.    Taksu
C.    Dewa Bagus Mas Madura
D.    Dewa Ayu Mas Madura
E.    Taksu
F.    Taksu
G.    Dewa Bagus Subandar
H.    Taksu
I.    Dewa Ayu Mas Subandar
J.    Patung
K.    Dewa Ayu Nganten/ Segara
L.    Siwa Dalem Kawitan
M.    Dewa Ngurah Pamayun
N.    Dewa Ayu Mas
O.    Dewa Ayu Manik
P.    Dewa Bagus Puri Jati
Q.    Dewa Bagus Natar Rawes
R.    Dewa Bagus Penataran Badung
S.    Dewa Bagus Gunung Sinunggal
T.    Dewa Ayu Manik Galih
U.    Dewa Bagus During Kelapa
V.    Dewa Bagus Ngurah Pasek
W.    Dewa Ngurah Kamulan
X.    Padmasana
Y.    Dewa Ayu Sakti
Z.    Dewa Ayu Melanting
a.    Dewa Bagus Ngurah Bukit
b.    Dewa Ayu Pesaren
c.    Dewa Bagus Mas Majapahit
d.    Taksu Pecalang
e.    Gedong Penyimpenan Pelelingga
f.    Bale Piyasan
g.    Jero Gede Panyarikan (Panglurah)
h.    Pangayatan Jaba Lebuh
i.    Bale Gong

2.4.    Pelinggih di Pamerajan Pasek Gelgel Banjar Dinas Labak Desa Anturan
Berikut adalah penjelasan dari masing-masing pelinggih yang ada di di Pemerajan, yaitu :
2.4.1.    Dewa Ngurah Kamulan


Menurut hasil wawancara, Dewa Ngurah Kamulan ini adalah tempat untuk memuja leluhur. Bila dihubungkan dengan Lontar Purwa Bumi Kamulan, yang memberikan penjabaran bahwa Sanggah Kamulan ini sebagai stana dari Dewa Pitara (leluhur). Dari sisi susila, menstanakan Dewa Pitara pada Sanggah Kamulan adalah bermaksud mengabdikan roh leluhur yang telah suci untuk selalu dipuja, memohon doa restu dan perlindungan. Selain itu sebagai wujud terimakasih kepada leluhur dan itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai perantara dari Ida Sang Hyang Widi karena leluhur telah banyak berjasa dalam kehidupan kita. Adapun wastra yang digunakan adalah putih sedangkan saput berwarna kuning. Sedangkan untuk bantennya adalah suci.


2.4.2.    Padmasana


Pada pura baru ataupun pura kuno yang telah mengalami renovasi akan ada bagunan Padmasana. Sedangkan pada pura-pura kuno yang belum kena atau mengalami renovasi bangunan padmasana itu tidak ada. Karena konsep Padmasana baru diterapkan setelah Dang Hyang Nirartha menjadi Bhagawannta di Kerajaan Gelgel yakni pada abad ke 14. Fungsinya untuk pemujaan Hyang Widi dalam wujudnya sebagai Siwa. Maknanya mohon kepada Hyang Widhi Wasa agar beliau menetralisir semua kekuatan sakti yang negatif di tempat itu sehingga menjadi positif dan sebaliknya agar menolong memberi perlindungan kepada manusia. Bangunan Padmasana ini ditempatkan di tenggara mengarah ke barat laut. Pada bagian atas dari bangunan ini terdapat mahkota dipahatkan lukisan gambar Hyang Acintya. Ini merupakan konsep pemujaan kepada Siwa yang bergelar Hyang Siwa Raditya, dapat disimpulkan bahwa dalam konsep Padmasana ini merupakan mendapatkan pengaruh sekta Siwa Siddhanta.
Adapun banten yang dihaturkan pada saat piodalan pada bagunan Padmasana adalah Suci Seetan. Sedangkan untuk wastranya berwarna putih serta saputnya adalah berwarna kuning.


2.4.3.    Pelinggih Hyang


Palinggih Hyang dalam merajan ini terletak paling utara, adapun Palinggih Hyang ini adalah pemujaan kepada para leluhur kita yang sudah meninggal. Adapun menurut kepercayaan dari keluarga besar kami, bahwa Palinggih Hyang ini adalah khusus untuk para leluhur yang belum suci atau di upacarai Ngaben. Adapun wastra yang digunakan di palinggih ini adalah wastra putih dengan saput kuning. Makna dari warna putih ini adalah suci sedangkan kuning berarti kemakmuran serta kesejahteraan Hal ini sama juga dengan paying (pajeng) yang digunakan seperti yang terlihat dalam gambar di atas. Untuk bantennya menggunakan suci tumpukan, ajuman serta penek tumpeng putih kuning.

2.4.4.    Taksu


Taksu adalah nama sebuah palinggih yang terdapat di samping Palinggih Kamulan Rong Tiga, Gedong Siwa maupun Gedong Kawitan. Taksu berarti daya Magic atau sakti. Sakti adalah symbol daripada Bala atau kekuatan (Swastika dalam buku Pasek Gunawan, 2012, 21). Akan tetapi dalam merajan ini, taksu ditempatkan di sebelah kanan Palinggih Dewa Bagus Madura serta di sebelah kiri Palinggih Dewa Ayu Mas Madura. Juga terdapat di depan Dewa Bagus Subandar dan Dewa Ayu Mas Subandar. Adapun fungsi dari palinggih ini adalah untuk memohon kekuatan gaib untuk pekerjaan yang digeluti bagi siapa yang mendirikan palinggih tersebut. Adapula Taksu Pecalang yang nanti akan dibahas selanjutnya. Oleh keluarga kami, dipercaya taksu ini sebagai perantara dalam memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi. Wastra yang digunakan dalam taksu ini adalah hitam putih (poleng) yang bermakna rwabhineda, yaitu putih dan hitam merupakan simbolik dari aman dan kacau, baik buruk, artinya pemakainya tahu dua keadaan tersebut yang selanjutnya diharapkan keamanan dan kebaikan itu dapat dipilah dan dipilih kemudian ditegakkan untuk memperoleh kehidupan yang harmonis. (Rupawan, 2008, 65-66). Adapun bantennya adalah tipat kelanan (sirikan).

2.4.5.    Taksu Pecalang

Melanjutkan pembahasan tentang taksu, Taksu berasal dari Caksu yang artinya mengawasi, melebur atau mengusir, atau menghilangkan. Maksudnya kekuatan gaib yang ada pada bangunan taksu ini akan mengusir atau menghilangkan serta melebur sifat-sifat yang tidak baik atau tidak suci. Palinggih Taksu juga sering disebut “Pacelang”, yang khusus menerima, mengatur dan menempatkan para dewa yang dianggap sebagai tamu yang turut menyaksikan jalannya upacara pujawali. Menurut penuturan panglisir di sanggah merajan saya, Taksu Pecalang ini merupakan tangan kanan dari Dewa Ngurah Kamulan. Wastra yang digunakan adalah hitam putih (poleng) sedangkan bantennya adalah tipat kelana (sirikan).

2.4.6.    Dewa Bagus Madura dan Dewa Ayu Mas Madura
  

Mengenai palinggih ini dipercaya sebagai rasa hormat keluarga kepada leluhur yang pergi dan menetap di Madura. Sehingga sebagai wujud rasa hormat dan terimakasih dibuatkanlah palinggih ini, Dewa Bagus dan Dewa Ayu, jika dihubungkan yaitu laki dan perempuan. Karena keluarga kami tidak ada yang tahu nama asli dari leluhur itu, maka di beri nama Dewa Bagus Madura dan Dewa Ayu Mas Madura. Wastra yang digunakan adalah putih sedangkan saputnya berwarna kuning. Untuk bantennya adalah Tegteg Daksina, Canang Ajuman serta Canang Ajengan.


2.4.7.    Dewa Bagus Subandar dan Dewa Ayu Mas Subandar
  

Adanya palinggih Dewa Bagus Subandar dan Dewa Ayu Subandar pada pamerajan itu menunjukkan panyungsung pamerajan itu memiliki mata pencaharian pedagang antar pulau disamping sebagai nelayan. Atau dengan kata lain wilayah Buleleng khususnya Anturan pada masa lalu merupakan daerah perdagangan antar pulau dimana penduduknya banyak yang bermata pencaharian sebagai pedagang antar pulau. Karena dipercaya Subandar ini telah banyak membantu masyarakat yang pada waktu itu terpuruk akibat kemiskinan, sehingga sebagai rasa hormat dibuatkanlah palinggih ini. Wastra yang digunakan adalah putih serta saputnya adalah kuning. Untuk banten dari palinggih ini, adalah tegteg daksina pada saat piodalan sedangkan pada hari raya tertentu hanya canang raka biasa.






2.4.8.    Dewa Ayu Nganten Segara



Palinggih ini sama dengan palinggih Subandar, tetapi menurut panuturan panglisir sanggah palinggih ini merupakan madu dari Dewa Ayu Mas Subandar sehingga dibuatkan berjejer dengan Dewa Bagus Subandar serta Dewa Ayu Mas Subandar. Banten yang dipergunakan adalah tegteg daksina, sedangkan untuk wastra berwarna putih dan saput berwarna kuning.

2.4.9.    Siwa Dalem Kawitan


Sebelumnya kawitan kami berada di Banjar Tegal, sehingga pada jaman dahulu sangat jauh bila ingin pergi kesana berhubung jalan tidak ada serta kendaraan juga tidak ada, sehingga oleh para leluhur dibuatkanlah pangayatan untuk memuja dan palinggih itu disebut Siwa Dalem Kawitan. Bila dihubungkan palinggih ini menganut sekte Siwa Siddhanta. Dilihat dari nama palinggih ini berisi Siwa. Untuk wastra dari palinggih ini menggunakan warna putih sedangkan untuk saput adalah kuning. Mengenai bantennya adalah Pejatian atau tegteg Daksina.

2.4.10.    Dewa Ngurah Pamayun


Menurut hasil wawancara, Pamayun berasal dari kata Mayuh yang berarti sehat (seger). Sehingga dipercaya, bila ada orang yang sakit maka mapinunas dan memohon di palinggih ini. Wastra yang dipergunakan adalah putih dan saput berwarna kuning. Bantennya adalah Tegteg Daksina.





2.4.11.    Dewa Ayu Mas


Palinggih ini untuk memohon agar seorang anak itu bisa di sayang oleh orang-orang terdekatnya yaitu keluarga. Jadi memohonlah di palinggih ini. Untuk wastranya adalah putih sedangkan saput berwarna kuning. Dan banten yang dihaturkan adalah tegteg daksina pada saat piodalan sedangkan hari raya biasa adalah canang raka.

2.4.12.    Dewa Ayu Manik


Palinggih ini adalah bagi yang mendapatkan paica ataupun sinar dari Ida Sang Hyang Widhi, entah itu berupa benda- benda pusaka atau yang lainnya maka mengucapkan terimakasih di palinggih ini. Wastra yang digunakan berwarna putih dan saputnya berwarna kuning. Sedangkan banten adalah Tegteg Daksina.

2.4.13.    Dewa Bagus Puri Jati


Palinggih ini adalah pangayatan untuk Pura Dalem Puri. Sebagai rasa hormat dan sujud syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi. Wastra yang digunakan berwarna putih dan saputnya berwarna kuning. Sedangkan banten adalah Tegteg Daksina.

2.4.14.    Dewa Bagus Natar Rawes

Mengenai palinggih ini dipercaya bagi orang-orang yang kajumput dalam artian ngiring, maka haruslah memohon dan berterimaksih di palinggih ini. Wastra yang digunakan berwarna putih dan saputnya berwarna kuning. Sedangkan banten adalah Tegteg Daksina.

2.4.15.    Dewa Bagus Penataran Badung


Palinggih ini guna sebagai rasa hormat bagi keluarga satu kawitan yang berada di Badung. Wastra yang digunakan berwarna putih dan saputnya berwarna kuning. Sedangkan banten adalah Tegteg Daksina.

2.4.16.    Dewa Bagus Gunung Sinunggal

Palinggih ini sebagai pangayatan dari Pura Bukit Sinunggal di Tajun. Karena menurut panuturan ini, para leluhur pernah ke Pura tersebut memberikan panugrahan atau kesejahteraan. Seperti halnya Pura Bukit Sinunggal yang merupakan stana Ganesa, palinggih ini juga dianggap sebagai stana dari Dewa Ganesa. Karena Dewa Ganesa adalah dewa pelindung mahluk hidup. Wastranya berwarna putih sedangkan saput berwarna kuning. Untuk bantennya adalah Tegteg Daksina.

2.4.17.    Dewa Ayu Manik Galih


Palinggih Dewa Ayu Manik Galih ini adalah sebagai tempat berstananya Dewi Sri yaitu sakti dari Dewa Siwa yang memberikan kesuburan berupa benih. Sehingga sebagai wujud rasa terimakasih dibuatkanlah palinggih Dewa Ayu Manik Galih. Di dalam rong palinggin ini terdapat gentong yang didalamnya berisi empat macam beras, yaitu beras putih, kuning, hitam (injin) dan merah. Ketika ada piodalan, jika menggunakan keempat beras tersebut maka di ambil (mapinunas) di palinggih ini. Wastra yang digunakan adalah putih dan saput kuning. Sedangkan untuk banten adalah apejatian.

2.4.18.    Dewa Bagus During Kelapa


Mengenai palinggih ini adalah sebagai wujud dari dewa dewi yang telah berjasa dalam pengadukan lautan susu untuk mencari tirta amrta. Sehingga jika dikaji dari nama During itu artinya duuring berarti diatas. Sehingga Ida Sang Hyang Widhi yang dianggap berada di alam atas dalam keadaan tak terpikirkan atau sunya. Wastra berwarna putih sedangkan saput berwarna kuning. Untuk bantennya adalah Apejatian.

2.4.19.    Dewa Bagus Ngurah Pasek





Palinggih ini adalah sebagai rasa hormat kepada Ratu Ngurah Pasek yang merupakan leluhur dari kawitan keluarga kami. Wastra yang digunakan adalah berwarna putih sedangkan saputnya berwarna kuning. Bantennya adalah Pejatian.

2.4.20.    Dewa Ayu Sakti


Palinggih ini sesuai dengan kisah kepala Dewa Brahma yang dipenggal karena dari kelima kepala beliau yang satunya sudah menyebabkan para Dewa marah besar. Sehingga diyakini kepala itu jatuh ke Bumi dan diwujudkan seperti buah kelapa. Kelapa adalah simbol alam semesta sehingga dalam banten, kelapa ini sering di pergunakan. Contohnya Daksina. Kemudian untuk meyelamatkan serta rasa saling menghormati kepada Dewa Brahma dibuatkanlah Palinggih Dewa Ayu Sakti yang didalamnya berisi Kelapa dan palinggih ini berada di sebelah selatan. Wastra yang digunakan adalah berwarna putih sedangkan untuk saput berwarna kuning. Untuk bantennya adalah Daksina.




2.4.21.    Dewa Ayu Melanting


Dewa Ayu Melanting ini sering disebut sebagai Sari Bukti. Artinya yang memberikan benih-benih atau sari kesuksesan bagi para petani. Karena dulunya di keluarga kami banyak yang bermata pencaharian sebagai petani, sehingga untuk menghormati dan memohon kepada Ida Sang Hyang Widi agar hasil panen berlimpah, maka dibutkanlah palinggih ini. Wastra yang digunakan adalah berwarna putih sedangkan saput berwarna kuning. Bantennya adalah tegteg daksina dan canang ajengan.

2.4.22.    Dewa Bagus Ngurah Bukit



Palinggih ini merupakan palinggih pangayatan. Karena dulu adalah jaman penjajahan sehingga banyak dari leluhur kami tidak bisa tangkil atau sembahyang di Pura Bukit itu, maka dibuatkanlah palinggih ini. Dewa Bagus Ngurah Bukit ini berada disebelah selatan, karena bukit merupakan gunung. Dan dipercaya gunung itu berada di selatan. Wastra yang digunakan adalah berwarna putih sedangkan untuk saput berwarna kuning. Untuk bantennya adalah Daksina.

2.4.23.    Dewa Ayu Pesaren


Mengenai palinggih ini, menurut penuturan para leluhur yang kembali dituturkan oleh Ketut Gina. Bahwa palinggih ini dipercaya sebagai stana dari para leluhur yang belum habis dosanya. Ketika diupacarai Ngaben, bagi leluhur yang belum bisa menempati Kamulan akan berstana di palinggih ini. Wastra yang digunakan adalah putih dan saput kuning. Untuk bantennya adalah Canang Ajengan dan tegteg Daksina. Bila pujawali bantennya adalah Pejatian.




2.4.24.    Dewa Bagus Mas Majapahit


Palingggih ini juga sering disebut Manjangan Salwang. Sebagai stana dari Mpu Kuturan karena jaasa beliau sebagai penyebar dan penyempurna agama Hindu di Bali pada abaad ke 10. Kepala Manjangan pada palinggih ini dipercaya dulunya Mpu Kuturan menaiki seekor Manjangan untuk pergi ke Bali. Wastra yang digunakan adalah putih sedangkan saputnya adalah kuning. Mengenai banten di palinggih ini adalah canang ajengan dan tegteg Daksina.

2.4.25.    Jero Gede Panyarikan (Panglurah)


Di Bali Jro Gede yang merupakan kristalisasi sekte Ganapatya atau disebut Dewa Ganesa yang merupakan tempat berstananya Dewa Gana, dimana sekte dari Dewa Ganesa atau Jro Gede ini berfungsi sebagai penjaga karang atau sebagai pelindung terhadap mahluk-mahluk yang berusaha untuk mengganggu kita. Pakaian saput dari palinggih ini adalah hitam putih (poleng) yang menandakan suatu keseimbangan yang ada di alam ini. Bantennya adalah Tipat Gong.

2.4.26.    Bale Piyasan


Bale ini juga sering disebut dengan Bale Paruman. Yang merupakan stana bhatara bhatari ketika dipersembahkan piodalan atau ayaban jangkep (harum-haruman). Disebut Bale Piyasan karena bale ini sebagai tempat untuk menghias pralingga-pralingga bila ada upacara piodalan. Dalam gambar diatas ada pula Jun Tandeg disebelahnya, dipercaya jun (gentong) itu tidak boleh sampai habis airnya karena dipercaya agar air kehidupan atau rejeki kita tidak ada surutnya. Jun Tandeg itu dipercaya sebagai stana dari Dewa Wisnu. Banten yang dihaturkan di Bale Piyasan ini adalah Tebasan, Suci Seetan serta Bagia Kasunaran.





2.4.27.    Pangayatan Jaba Lebuh


Palinggih ini berada paling luar disebelah kanan candi bentar. Sebagai stananya Dewa Ganesa karena Ganesa dianggap sebagai dewa pelindung. Artinya melindungi dan membersihkan segala kekotoran dari umat yang memiliki pikiran kotor. Sehingga ketika memasuki Jeroan, pikiran umat menjadi bersih. Wastra yang digunakan adalah putih sedangkan saputnya adalah kuning. Bantennya adalah Daksina dan canang panyapa linggih.

2.4.28.    Gedong Penyimpenan Pelelingga


Gedong Penyimpenan Pelelingga ini adalah tempat untuk menyimpan pralingga-pralingga yaitu symbol dari Dewa dan Dewi.

2.4.29.    Bale Gong


Bale Gong ini merupakan tempat untuk menyimpan gong ditambah dengan peralatan lain yang nantinya akan dipergunakan pada saat upacara piodalan tertentu.

2.4.30.    Candi Kurung
           
    Candi Kurung di Depan             Candi Kurung di Belakang

Candi Kurung juga sering disebut dengan Kori Agung. Candi ini bentuknya hampir sama dengan Candi Bentar, yang membuat berbeda adalah kalau di Candi Bentar kedua ujung dari pintu itu tidak bertemu ,sedangkan di Candi Kurung kedua ujungnya bertemu membentuk sebuah krucut yang menyimbulkan sebagai sebuah puncak gunung yang diyakini adalah sebagai tempat yang paling suci. Kori dalam bahasa Bali berarti Pintu dan Agung berarti yang paling utama. Jadi Kori Agung dimaknai sebagai pintu utama untuk mencapai keharmonisan hidup.
2.4.31.    Candi Bentar

Candi bentar adalah sebuah pintu /gapura berbentuk dua bangunan serupa yang letaknya berdampingan dari sisi kiri dan kanan. Candi Bentar ini adalah merupakan peninggalan dari Zaman Majapahit. Candi ini ibarat gunung yang terbelah, candi ini melambangkan dua unsur yang berbeda yang ada dimuka bumi ini yang harus selalu ada untuk mengisi satu dengan yang lainnya ( Rwa Bhineda ), adanya laki laki dan perempuan, siang dan malam, kebaikan dan keburukan. Filosofinya adalah setiap umat yang memasuki kawasan pura hendaknya bisa memisahkan pikirin mereka dari hal hal yang berbau negatif makanya mereka melewati candi bentar. Setelah itu sebelum memasuki halaman utama untuk bersembahyang mereka harus menyatukan pikiran mereka hanya ke hadapan Tuhan makanya mereka melewati Kori Agung.
2.5.    Konsep Penyatuan Siwa Siddhanta di Pemerajan Pasek Gelgel Banjar Dinas Labak Desa Anturan
Adapun konsep penyatuan Siwa Siddhanta yang bisa kita dapatkan dari Merajan Pasek Gelgel, adalah
2.5.1.    Padmasana, karena di Padmasana merupakan konsep pemujaan kepada Siwa yang bergelar Hyang Siwa Raditya, dapat disimpulkan bahwa dalam konsep Padmasana ini merupakan mendapatkan pengaruh sekta Siwa Siddhanta.
2.5.2.    Siwa Dalem Kawitan, dari nama palinggih ini bisa kita simpulkan bahwa palinggih ini menjadi stana dari Siwa. Sehingga mendapat pengaruh sekte Siwa Siddhanta.
2.5.3.    Dewa Bagus Gunung Sinunggal, palinggih ini adalah stana dari Dewa Ganesa. Mengingat Pura Bukit Sinunggal yang ada di Tajun merupakan stana dari Dewa Ganesa. Maka palinggih ini mendapat pengaruh sekte Ganapati atau Ganapatya.
2.5.4.    Dewa Ayu Manik Galih, palinggih ini adalah stana dari Dewi Sri. Dewi Sri merupakan sakti dari Dewa Wisnu. Sehingga palinggih ini mendapat pengaruh dari sekte Waisnawa.
2.5.5.    Dewa Ayu Melanting, palinggih ini juga dipercaya sebagai stana dari Dewi Sri yang merupakan dewi kesuburan bagi para petani. Maka palinggih ini terkena pengaruh sekte Waisnawa.
2.5.6.    Jro Gede Panyarikan (Panglurah), palinggih ini stana dari Dewa Ganesa. Sehingga terpengaruh sekte Ganapati.
2.5.7.    Pengayatan Jaba Lebuh, palinggih ini merupakan stana dari Dewa Ganesa. Sehingga palinggih ini juga terkena pengaruh sekte Ganapati.
Dari penjelasan diatas, maka dapt kita simpulkan bahwa di Pamerajan Pasek Gelgel ini ada penyatuan konsep Siva SIddhantanya. Dilihat dari adanya pemujaan kepada Dewa Dewi yang merupakan manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi yang masuk ke dalam sekte-sekte tertentu. Antara sekte yang satu dengan lainnya kesemuanya itu sudah enyerap menjadi satu yaitu masuk ke dalam konsep Siwa Siddhanta, sehingga tidak ada saling mendominasi karena sudah di kristalisasi ke dalam konsep Siwa Siddhanta.

III.    PENUTUP
Setelah membahas tentang Pamerajan, maka sebagai penutup dapat disimpulkan bahwa Pamerajan sebagai istilah untuk menyebutkan tempat pemujaan keluarga adalah tergolong istilah dalam bahasa “singgih” atau bahasa Bali halus. Sedang dalam bahasa Bali “kapara” atau bahasa “lumrah” disebut “sanggah”. Pamerajan atau sanggah adalah tempat pemujaan untuk suatu keluarga. Pamerajan bukan merupakan tempat pemujaan umum yang berlaku bagi setiap umat Hindu. Pamerajan hanya tempat pemujaan untuk umat Hindu yang memiliki ikatan keluarga yang sama. Fungsi Pamerajan adalah untuk memuja roh suci leluhur atau atma yang telah disebut Dewa Pitara (Sidha Dewata).
Piodalan di pamerajan pada saat Budawage Kelawu. Mengenai palinggih-palinggih, sebanyak 29 palinggih, dan itu belum termasuk Gedong Penyimpenan, Bale Gong dan Candi Bentar serta Candi Kurung. Adapun nama-nama palinggih tersebut adalah Taksu Pecalang, Dewa Bagus Mas Majapahit, Dewa Ayu Pesaren, Dewa Bagus Ngurah Bukit, Dewa Ayu Melanting, Dewa Ayu Sakti, Padmasana, Dewa Ngurah Kamulan, Dewa Bagus Ngurah Pasek, Dewa Bagus During Kelapa, Dewa Ayu Manik Galih, Dewa Bagus Gunung Sinunggal, Dewa Bagus Penataran Badung, Dewa Bagus Natar Rawes, Dewa Bagus Puri Jati, Dewa Ayu Manik, Dewa Ayu Mas, Dewa Ngurah Pamayun, Siwa Dalem Kawitan, Dewa Ayu Nganten/Segara, Dewa Ayu Mas Subandar, Dewa Bagus Subandar, Taksu, Dewa Ayu Mas Madura, Dewa Bagus Madura, Palinggih Hyang, Jero Gede Panyarikan (Panglurah), Bale Piyasan, Pangayatan Jaba Lebuh.
Mengenai konsep penyatuan Siwa Siddhanta, ada beberapa palinggih yang ermasuk ke dalam sekte, seperti sekte waisnawa, ganapatya dan siwa siddhanta. Akana tetapi kesemuanya itu akan menjadi satu dengan sekte Siwa Siddhanta dan tidak ada yang mendominasi.


DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, I Ketut Pasek. 2012. Siva Siddhanta II. Tanpa Penerbit
Rupawan, I Ketut. 2008. Saput Poleng Dalam Kehidupan Beragama Hindu Di Bali. Denpasar : Pustaka Bali Post
Tim Penyusun. 2004. Materi Pelatihan Pemangku dan Tukang Banten. PHDI Kabupaten Buleleng
Tim Redaksi Bali Post. 2006. Mengenal Pura Sad Kahyangan dan Kahyangan Jagat. Denpasar : Pustaka Bali Post
Wiana, I Ketut. 1989. Palinggih di Pamerajan. Denpasar : Upada Sastra
http://id.wikipedia.org/wiki/Pura
http://sosbud.kompasiana.com/2011/03/30/candi-bentar-dan-candi-kurung/
Ketut Gina. Wawancara tanggal 29 November 2012.



LAMPIRAN


Palinggih Dewa Bagus Madura dan Dewa Ayu Mas Subandar serta Taksu



Palinggih Berjejer Tampak dari Selatan ke Utara


Palinggih Sebelah Utara Bale Piyasan



Palinggih Yang Berjejer di Foto dari sebelah Utara


Palinggih Dewa Bagus Subandar, Dewa Ayu Mas Subandar serta Taksu



Pamerajan sebelah Selatan




Saya sedang Maturan di Palinggih Dewa Ngurah Kamulan



Ngayah di Pamerajan



Maturan di Palinggih Jro Gede Panyarikan/Panglurah



Maturan di Padmasana